Negerimusik.com — Tidak semua lagu berhenti di telinga. Ada yang terasa belum selesai sampai ia menemukan bentuk lain—lebih visual, lebih konkret, lebih dekat dengan realitas yang ingin disampaikan.
Bagi Tiresome, “Ursula” adalah salah satu karya yang menuntut itu.
Band alternative/post-hardcore asal Sulawesi Utara–Gorontalo ini kembali memperluas pendekatan artistiknya lewat perilisan video klip terbaru untuk single “Ursula”, bagian dari maxi-single Umbra//Ursula di bawah naungan Loverman Records.
Namun, ini bukan sekadar visualisasi lagu. Ini adalah upaya untuk menerjemahkan emosi yang sebelumnya hanya bisa didengar—menjadi sesuatu yang bisa dilihat, dirasakan, dan mungkin dipahami dengan cara yang berbeda.
Secara tematik, “Ursula” berbicara tentang hubungan—bukan yang ideal, tapi yang penuh gesekan. Tentang dinamika yang tidak selalu stabil, tentang tarik-ulur emosi yang kadang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Firli Yogiteten, vokalis sekaligus penulis lirik, memilih pendekatan yang berbeda dari rilisan sebelumnya. Ia tidak lagi memulai dari kata, melainkan dari rasa yang dibangun oleh musik.
Aransemen yang lebih pop dan sentimental menjadi fondasi baru, dengan riff sebagai titik awal yang menentukan arah emosi lagu. Dari situ, lirik tumbuh—mengikuti, bukan memimpin.
Pendekatan ini membuat “Ursula” terasa lebih terbuka. Ia tidak mengunci makna, melainkan memberi ruang bagi pendengar untuk menafsirkan—apakah itu tentang hubungan personal, atau bahkan dinamika di dunia kerja yang sama-sama kompleks.
Video klip “Ursula” tidak lahir dari ruang yang steril. Ia dibuat di tengah perjalanan. Dalam rangkaian tur Circling the Umbra yang berlangsung sepanjang Maret hingga April, Tiresome memanfaatkan momen di antara jadwal manggung dan latihan untuk melakukan proses pengambilan gambar.
Selama tiga hari di Gorontalo, mereka merekam visual—bukan hanya sebagai dokumentasi, tapi sebagai bagian dari narasi itu sendiri.
Di balik layar, duo Rezka Aprianto dan Ebay Akbar Hasan menangani penyutradaraan sekaligus editing, dengan dukungan dari brand lokal Dustie dan produser Ayi Kobie.
Hasilnya adalah visual yang tidak terasa dibuat-buat—lebih seperti potongan realitas yang disusun ulang menjadi cerita.
Bagi Aries Ishak, proyek ini juga menjadi cara untuk tetap terhubung dengan komunitas. Tur yang membawa mereka kembali ke kota asal—Manado, Gorontalo, dan Kotamobagu—bukan hanya soal perform, tapi juga soal merawat relasi yang sudah ada.
Sementara Sadam Mamonto melihat eksplorasi visual ini sebagai langkah awal. Bukan tidak mungkin, ke depannya lebih banyak karya Tiresome yang akan diterjemahkan ke medium serupa.
Karena bagi mereka, musik tidak harus berhenti di satu bentuk.
Tiresome sendiri lahir dari jarak. Dibentuk pada 2024 oleh Firli (Kotamobagu), Aries (Gorontalo), dan Sadam (Manado), band ini awalnya berkembang lewat pertukaran ide jarak jauh—sebuah proses yang justru membentuk karakter mereka sejak awal.
Dengan pendekatan post-hardcore yang terbuka pada eksplorasi alternative, mereka terus membangun diskografi yang cukup konsisten, mulai dari Lethargica//Corkscrew (2024), mini album Bleeder (2024), hingga “Umbra//Ursula”.
“Ursula” dalam bentuk video klip terasa seperti perpanjangan dari sesuatu yang belum selesai. Ia bukan sekadar pelengkap, tapi bagian dari cerita itu sendiri, karena ada emosi yang tidak cukup hanya didengar, dan mungkin, seperti yang dilakukan Tiresome, kadang kita juga perlu melihatnya—agar benar-benar mengerti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar