JAKARTA, Negerimusik.com — Tidak semua musisi memulai dari nol. Beberapa justru menghabiskan waktu bertahun-tahun di balik layar—mengamati, meracik, dan memahami ritme sebelum akhirnya benar-benar berbicara lewat karya sendiri.
Itulah yang dilakukan
Jidho. Setelah lebih dari satu dekade dikenal sebagai DJ yang bermain di berbagai ruang dan malam, ia akhirnya mengambil langkah yang selama ini tertunda: merilis karya orisinal pertamanya.
Judulnya sederhana, tapi sugestif:
“SUGARCANE.”
Sebuah lagu R&B yang tidak mencoba terlalu keras untuk terdengar besar—justru menemukan kekuatannya dalam vibe yang santai, intim, dan sensual.
Bagi Jidho, “SUGARCANE” bukan sekadar single debut. Ia adalah titik balik—dari seseorang yang selama ini menghidupkan musik orang lain, menjadi sosok yang mulai membangun dunianya sendiri.
“Benar, ‘SUGARCANE’ adalah single pertama saya. Setelah lebih dari satu dekade hanya produce edit di SoundCloud, akhirnya saya memberanikan diri untuk membuat lagu original,” ujarnya.
Perjalanan itu tidak instan. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil: mengolah sampel, membangun ulang sound, dan perlahan memahami bagaimana sebuah lagu bisa hidup bukan hanya di dancefloor, tetapi juga di kepala dan perasaan pendengar.
Dalam prosesnya, Jidho tidak berjalan sendiri. Ia menggandeng
Ezra Kunze, yang membawa dimensi lain ke dalam lagu ini—lirik yang sensual, personal, dan terasa dekat.
Kolaborasi ini terasa lebih dari sekadar kerja profesional.
“Saya dulu sering nonton set Jidho waktu masih SMA, hampir setiap Sabtu di Kemang. Jadi kolaborasi ini terasa seperti momen full circle,” kata Ezra.
Ada sejarah di antara mereka. Dan mungkin itu yang membuat “SUGARCANE” terdengar tidak dipaksakan—ia mengalir seperti percakapan yang sudah lama tertunda.
Secara sonik, “SUGARCANE” berdiri di antara dua dunia: nostalgia dan kekinian.
Fondasinya dibangun dari sampel yang ditemukan Jidho, lalu dikembangkan bersama
Fathan Maulana yang menghadirkan beat R&B bernuansa old-school. Hasilnya adalah sound yang mengingatkan pada era awal 2000-an—hangat, groovy, dan tidak terburu-buru.
Di atas itu, vokal Ezra bergerak pelan, membangun atmosfer yang sensual tanpa harus berlebihan.
“Tidak ada tekanan sama sekali, hanya pure vibes,” ungkap Ezra.
Dan memang, “SUGARCANE” terasa seperti itu: tidak ambisius secara berisik, tapi kuat secara rasa.
Secara tema, lagu ini mengisahkan ketertarikan sederhana—seorang pria yang terpikat oleh sosok perempuan yang mengubah harinya menjadi lebih berwarna.
Metafora “
sugarcane” digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang manis, lembut, dan sulit diabaikan. Tapi yang membuatnya menarik bukan hanya liriknya—melainkan bagaimana musiknya memberi ruang bagi makna itu untuk terasa.
Tidak ada drama berlebihan. Tidak ada klimaks yang dipaksakan. Hanya groove, suasana, dan chemistry yang perlahan terbangun.
Di balik layar, pembagian peran dalam lagu ini cukup jelas:
Jidho: pengolahan sampel & arah produksi
Fathan Maulana: beat & melodi
Ezra Kunze: penulisan lirik & vokal
Greybox: mixing & mastering
Dirilis melalui
Pon Your Tone, “SUGARCANE” juga hadir dengan visual yang memperkuat identitasnya—menampilkan Jidho dan Ezra dalam mobil sport terbuka, membawa nuansa visual khas era R&B 2000-an.
Visualizer pun disiapkan untuk melengkapi pengalaman—menjadikan lagu ini bukan hanya untuk didengar, tapi juga dirasakan secara visual.
Sebagai debut, “SUGARCANE” tidak terdengar seperti percobaan. Ia justru terasa seperti pintu masuk ke sesuatu yang sudah lama disiapkan.
Jidho tidak lagi hanya bermain di ruang orang lain. Ia mulai membangun ruangnya sendiri—pelan, tapi pasti.
Dan jika lagu ini adalah petunjuk awalnya, maka perjalanan ke depan kemungkinan besar akan dipenuhi vibe yang sama: santai, sensual, dan jujur pada akar musik yang membentuknya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar