SURABAYA, 21 April 2026 — Negerimusik.com di tengah lanskap musik Indonesia yang kian dipenuhi tema-tema serius dan reflektif, Pertunjukan justru memilih jalur yang berbeda. Lewat moniker ini, Adib membawa sesuatu yang terdengar ringan di permukaan, namun punya akar yang jauh lebih personal: musik yang ia sebut sebagai “Pop ‘Tuk Dansa”.
Single terbaru bertajuk “Firasat, firasat” menjadi salah satu penanda paling jelas dari arah musikal tersebut—sebuah ruang di mana lirik sederhana, ritme yang mengajak bergerak, dan nostalgia bertemu tanpa dipaksa menjadi sesuatu yang terlalu rumit.
Namun di balik kesederhanaannya, ada proses panjang dalam menemukan identitas.
Bagi Adib, perjalanan musiknya tidak dimulai dari panggung atau studio rekaman. Ia justru lahir dari layar kecil video game era 2000-an—dari PES, Winning Eleven, hingga FIFA.
“Titik aku into banget sama musik itu ketika aku main PES, Winning Eleven, dan FIFA. Lewat games itu aku jadi kenal banyak musisi baru, yang akhirnya soundtracknya jadi playlist, dan akhirnya jadi selera musikku sampai sekarang,” ujar Adib.
Dari sana, musik tidak lagi sekadar latar permainan. Ia berubah menjadi pintu masuk ke dunia yang lebih luas—soundtrack yang menempel, lalu berkembang menjadi referensi, dan akhirnya menjadi fondasi estetika bermusiknya hari ini.
Apa yang dibawa Pertunjukan bukanlah kompleksitas teknis atau produksi yang berlapis-lapis. Justru sebaliknya.
“Pop ‘Tuk Dansa” yang ia sebutkan adalah bentuk musik yang tidak berusaha terlihat lebih berat dari yang seharusnya. Ia ringan, repetitif, ritmis, dan dekat dengan tubuh—musik yang lebih mudah dirasakan daripada dijelaskan.
Dalam konteks itu, “Firasat, firasat” berdiri sebagai karya yang tidak mencoba menjadi rumit, tetapi justru jujur pada bentuknya sendiri.
Single ini bukan berdiri sendiri. Ia menjadi bagian dari proses panjang sebelum album penuh Pertunjukan yang direncanakan rilis pada Juni 2026.
Di titik ini, “Firasat, firasat” berfungsi sebagai semacam penegasan arah: bahwa Pertunjukan tidak sedang mencari bentuk yang paling “serius”, tetapi bentuk yang paling “cocok”.
Sebuah cara untuk mematangkan identitas sebelum akhirnya membuka bab yang lebih besar.
Yang menarik dari Pertunjukan bukan hanya musiknya, tapi bagaimana ia dibentuk oleh pengalaman yang sangat spesifik: masa kecil di era 2000-an, budaya game, dan soundtrack yang tanpa sadar membentuk selera.
Dari sana, “Firasat, firasat” bukan hanya lagu, tetapi juga hasil sedimentasi waktu—campuran antara memori, kebiasaan mendengar, dan cara seseorang tumbuh bersama musik tanpa benar-benar menyadarinya.
Dengan single ini, Pertunjukan semakin dekat dengan album debutnya. Sebuah proyek yang tampaknya akan menjadi ruang di mana semua referensi, pengalaman, dan intuisi Adib dirangkai menjadi satu kesatuan.
Dan jika “Firasat, firasat” adalah petunjuk awalnya, maka album tersebut kemungkinan besar akan menjadi perjalanan yang sangat personal—meski tetap dibungkus dalam ritme yang mengajak bergerak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar