KEDIRI, Negerimusik.com — Ada momen-momen kecil yang sering dianggap sepele: berbaring, diam, dan menatap langit-langit kamar. Bagi sebagian orang, itu hanya kebiasaan. Tapi bagi Diossoulo, momen itu justru menjadi titik awal lahirnya sebuah karya.
Lewat single debut berjudul “Sunken Ceiling”, Diossoulo mengubah ruang paling sunyi menjadi medan refleksi—tentang hidup, waktu, dan hal-hal yang tidak pernah benar-benar bisa dijawab.
Dirilis pada 10 April 2026 melalui Soundjana Creative, lagu ini menjadi perkenalan pertama dari proyek solo yang terasa jauh lebih personal dibandingkan karya-karya sebelumnya.
Bagi Dio, langit-langit kamar bukan sekadar batas ruang. Ia adalah kanvas kosong tempat pikiran bergerak bebas—kadang liar, kadang menakutkan.
“Aku suka melamun dan melihat langit-langit kamarku. Di sana, aku bisa berimajinasi tentang banyak hal, terutama soal hidup,” ujarnya.
Dari kebiasaan sederhana itu, muncul pertanyaan-pertanyaan yang lebih dalam—tentang waktu yang terbatas, tentang hidup yang terasa terlalu singkat untuk semua hal yang ingin dipahami.
“Sampai kapan aku hidup? Jangan-jangan waktuku di dunia bakal lebih singkat dari yang kukira.”
Ada kegelisahan yang tidak diucapkan dengan keras, tapi terasa jelas: bahwa hidup berjalan dengan ritme yang tidak selalu sejalan dengan kesiapan manusia.
Di balik nama Diossoulo, ada sosok Pradio Manggara Putra, yang sebelumnya dikenal sebagai vokalis-gitaris dari band Kediri, IGMO. Bersama IGMO, ia telah merilis album kedua bertajuk Absurd, Artificial, Potential, yang mendapat respons positif dari berbagai media, termasuk dari luar negeri.
Namun, tidak semua hal bisa disampaikan dalam format band.
“Project ini sangat personal bagiku. Sesuatu yang gak selalu bisa kutempatkan di IGMO,” lanjutnya.
Diossoulo hadir sebagai ruang alternatif—lebih sunyi, lebih jujur, dan lebih dekat dengan dirinya sendiri.
“Sunken Ceiling” dibangun dengan pendekatan yang minimal: trek akustik dengan sentuhan ambience yang perlahan mengisi ruang.
Tidak ada produksi yang berlebihan. Tidak ada dorongan untuk terdengar megah. Justru di situlah kekuatannya—di kesederhanaan yang memberi ruang bagi emosi untuk bernapas.
Menariknya, hampir seluruh proses dikerjakan sendiri oleh Dio: dari penulisan, produksi, rekaman, hingga mixing dan mastering. Ia hanya dibantu oleh Gab sebagai co-producer, engineer, sekaligus gitaris dalam beberapa bagian.
Referensi musikalnya pun terasa jelas: dari keintiman Nick Drake, kejujuran Iwan Fals, hingga energi mentah AC/DC—semuanya melebur tanpa terasa dipaksakan.
Karya ini juga diperkuat oleh visual artwork yang digarap oleh Ziigoatt, menambah lapisan interpretasi terhadap dunia yang sedang dibangun Diossoulo.
Dan “Sunken Ceiling” bukan berhenti di sini. Lagu ini akan menjadi bagian dari album penuh bertajuk Dream Like Holy Cowards, yang rencananya dirilis tahun ini, dengan satu atau dua single tambahan sebagai pengantar.
Pada akhirnya, “Sunken Ceiling” bukan tentang jawaban. Ia lebih dekat dengan kumpulan pertanyaan—yang mungkin tidak akan pernah benar-benar selesai.
Tentang hidup yang terasa terlalu singkat. Tentang waktu yang tidak bisa ditawar. Tentang manusia yang terus mencoba memahami dirinya sendiri, meski tahu bahwa pemahaman itu tidak akan pernah utuh.
Dan mungkin, di situlah letak kejujurannya. Karena terkadang, menatap langit-langit kamar adalah satu-satunya cara untuk benar-benar mendengar isi kepala sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar