Loenar Van Hail Lepas “Blood N Tears”, Amarah, Empati, dan Catatan Gelap Menuju Jurnal Hitam - negerimusik.com

Breaking

18/04/2026

Loenar Van Hail Lepas “Blood N Tears”, Amarah, Empati, dan Catatan Gelap Menuju Jurnal Hitam



Bandung Unit rock Bandung, Loenar Van Hail, resmi melepas single terbaru bertajuk Blood N Tears pada Sabtu (18/4). Lagu ini menjadi pintu masuk menuju debut album mereka, Jurnal Hitam, yang dijadwalkan rilis pertengahan tahun ini. Sebelumnya, mereka sempat memperkenalkan diri lewat single ugal-ugalan “Live to Live” di 2024—sebuah pemanasan yang kini terasa seperti ancang-ancang menuju sesuatu yang lebih gelap dan politis.

Saat ini, Loenar Van Hail digerakkan oleh Imansyah Hidayat (vokal, synthesizer), Indra Rusmana Putra (lead gitar), M. Alfi Rusmana (gitar), dan Fayyadh Adha Bestari (bass).




Di “Blood N Tears”, mereka menyalakan mesin rock dengan spektrum referensi yang lebar—dari energi 70-an hingga 90-an. Hasilnya: vokal melengking yang nyaris meledak, riff gitar tajam dan kotor, lini bass yang agresif, serta drum yang dinamis, dipadu lapisan synthesizer bernuansa galaktik. Hampir empat menit durasi lagu ini terasa padat—bukan cuma secara sonik, tapi juga secara muatan.

Secara naratif, “Blood N Tears” berdiri di wilayah yang tidak nyaman: luka, kemarahan, dan respon terhadap kejahatan kemanusiaan yang terus berulang. Lagu ini membaca situasi global—khususnya konflik berkepanjangan di Palestina—serta eskalasi geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Loenar Van Hail tidak mengambil posisi netral; mereka bersuara.

“Kemuakan terhadap kejahatan perang menjadi dorongan utama dalam penulisan lagu ini—respon jujur atas rasa masygul melihat tragedi yang tak kunjung usai. Rudal, berita kematian, dan korban sipil yang terus berjatuhan tanpa suara,” ujar Imansyah Hidayat.

Bagi mereka, musik bukan sekadar medium ekspresi, tapi juga sikap.



“Lagu ini adalah cara kami menyuarakan empati sekaligus penolakan terhadap normalisasi konflik. Di balik setiap ledakan dan statistik, ada kehidupan yang hancur—dan musik jadi cara kami berdiri bersama mereka yang terdampak,” lanjutnya.

Di sisi lain, “Blood N Tears” juga dibaca sebagai semacam kode—sekaligus pertanyaan—terhadap arah politik luar negeri Indonesia. Loenar Van Hail menyoroti berbagai kebijakan yang dinilai tidak sepenuhnya selaras dengan nilai kemanusiaan dan solidaritas global.

“Keputusan Indonesia bergabung dalam dewan perdamaian BOP mencederai pandangan politik rakyat yang pro-Palestina. Ini bentuk hegemoni lunak dalam relasi geopolitik, dengan dalih rekonstruksi dan stabilisasi Gaza,” ujar Fayyadh Adha Bestari.

Mereka juga melihat pembentukan BOP berjalan beriringan dengan meningkatnya tensi Iran–Israel, yang kembali memunculkan dampak kemanusiaan yang serius.

“Hemat kami, keluar dari BOP adalah langkah konkret untuk mengembalikan sikap politik bangsa ini. Selebihnya, perjuangkan kemerdekaan Palestina,” tambahnya.

Payung album Jurnal Hitam sendiri diposisikan sebagai ruang refleksi—kumpulan catatan atas realitas sosial-politik yang mereka hadapi. Dari kebijakan negara yang dinilai tidak efektif, respons politisi yang tumpul, hingga praktik represif yang mencederai demokrasi.

Jurnal Hitam adalah kumpulan kegelisahan kami. Setiap lagu adalah pertemuan antara amarah dan kepedulian,” tutup Imansyah.


Dari sisi produksi, “Blood N Tears” dikerjakan di The Old Ghost House, Bandung, dengan arahan produser muda Al Azthra Verdijantoro, yang juga menangani mixing, mastering, hingga artwork dengan pendekatan visual yang eklektik dan kontras. Lagu ini sudah tersedia di berbagai platform digital.




Perilisannya juga tidak berdiri sendiri. Loenar Van Hail dijadwalkan tampil dalam aksi Bandung Protest – Solidaritas Seni Untuk Palestina – Global Day of Action: “Asia Afrika Berkabung, Dunia Tanpa Zionisme Kolonialisme” pada 18 April 2026. Aksi ini menjadi respon alternatif atas peringatan Konferensi Asia Afrika ke-71, melibatkan berbagai kolektif, termasuk Raws Syndicate, seniman pantomim Wanggi Hoed, serta komunitas solidaritas Palestina–Iran.

Aksi akan berlangsung dalam format long march dari Monumen Prasasti Dasasila Bandung menuju Palestina Walk Bandung—dan di momen itu, “Blood N Tears” akan dibawakan untuk pertama kalinya di ruang publik.


Tentang Loenar Van Hail


Terbentuk di Bandung sejak 2015, Loenar Van Hail berangkat dari pertemuan Imansyah Hidayat dan Indra Rusmana Putra—dua kepala yang melihat rock bukan sekadar genre, tapi sebagai ruang eksplorasi gagasan. Dari sana, mereka meramu spektrum pengaruh—mulai dari Seattle sound hingga psychedelic—menjadi satu lanskap bunyi yang cair dan terus berkembang.

Formasi kemudian menguat pada 2022 dengan masuknya M. Alfi Rusmana dan Fayyadh Adha Bestari, mempertebal struktur sekaligus memperkaya arah musikal mereka.

Nama Loenar Van Hail sendiri berakar dari “Lunar” (bulan)—simbol siklus, pergerakan, dan misteri—serta “Hail”, yang dalam khazanah sastra berarti seruan atau penghormatan. Sebuah identitas yang mencerminkan karakter mereka: gelap tapi tenang, keras tapi subtil—dan selalu bergerak di antara dua kutub itu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALBUM

SINGLE

OPINI

Iklan Negerimusik