Fena Basafiana Rilis Double Single “Hancur di Ketinggian”, Potret Pilu Bencana dan Kritik atas Kerusakan Alam - negerimusik.com

Breaking

15/04/2026

Fena Basafiana Rilis Double Single “Hancur di Ketinggian”, Potret Pilu Bencana dan Kritik atas Kerusakan Alam

 


Di tengah derasnya arus informasi tentang krisis lingkungan, Fena Basafiana merilis double single bertajuk Hancur di Ketinggian—sebuah karya yang mencoba menerjemahkan luka, kehilangan, dan kebingungan akibat bencana alam yang kian sering terjadi.

Berangkat dari realitas yang tak bisa dihindari—banjir, longsor, hingga kerusakan lingkungan akibat pembangunan yang abai pada keseimbangan ekosistem—rilisan ini menjadi refleksi emosional atas dampak yang dirasakan manusia. Tidak hanya bagi mereka yang mengalami langsung, tetapi juga bagi publik yang menyaksikan dari kejauhan.

Dalam double single ini, Fena membagi narasi ke dalam dua fase emosional.



Pada lagu pertama, ia menghadirkan sudut pandang seseorang yang mulai menyadari kehancuran yang terjadi. Sosok ini diliputi penyesalan karena sempat percaya pada janji-janji kesejahteraan dari para penguasa, yang pada akhirnya justru berujung pada kerusakan yang masif dan terstruktur.

Sementara di lagu kedua, narasi bergerak menuju fase penerimaan. Tokoh di dalamnya mencoba memahami tragedi yang terjadi—mengapa kehancuran bisa datang dari berbagai arah, dan bagaimana semuanya berakhir dengan begitu tragis.




Pendekatan ini membuat “Hancur di Ketinggian” terasa seperti perjalanan batin: dari marah, kecewa, hingga perlahan menerima kenyataan.

Secara musikal, kedua lagu ini dikemas dalam nuansa goth-pop (gothic pop)—menggabungkan atmosfer gelap dan dramatis dengan melodi yang tetap catchy.

Fena menggandeng Krisnadi Tamsil sebagai produser dan Rudy Fernando sebagai pianis untuk membangun lanskap suara yang emosional dan intens. Hasilnya adalah komposisi yang tidak hanya menyentuh secara lirik, tetapi juga memperkuat rasa melalui aransemen musik.

Visual artwork yang digarap oleh Dida Negara turut mempertegas narasi yang diangkat. Pada cover pertama, terlihat sepasang manusia yang membelakangi tempat tinggalnya yang telah hancur. Sementara pada cover kedua, hanya tersisa satu sosok—menggambarkan kehilangan yang lebih dalam, sekaligus menyinggung kerentanan kelompok tertentu, terutama perempuan, dalam dampak eksploitasi alam.

Fena juga secara sadar membiarkan lirik dalam karyanya terasa puitis dan tidak sepenuhnya mudah dipahami. Baginya, kebingungan adalah bagian dari pengalaman mendengarkan itu sendiri.

Pendengar diajak untuk ikut mencari makna—seperti halnya masyarakat yang kerap mempertanyakan keputusan penguasa, namun tetap berusaha menemukan jawaban dan jalan keluar.

Lewat “Hancur di Ketinggian”, Fena Basafiana tidak hanya merilis karya musik, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang isu yang lebih luas: relasi manusia dengan alam, serta konsekuensi dari keputusan yang diambil tanpa mempertimbangkan keberlanjutan.




Rilisan ini juga menjadi langkah awal bagi Fena untuk membuka peluang kolaborasi dengan musisi lain, khususnya dalam mengangkat tema-tema serupa di masa mendatang.

Double single “Hancur di Ketinggian” kini sudah tersedia di berbagai platform digital streaming. Sebuah karya yang tidak hanya untuk didengar, tetapi juga untuk direnungkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALBUM

SINGLE

OPINI

Iklan Negerimusik