PVLETTE Menyelami Putus Asa dan Penerimaan di Album “Semakin Buram dan Percuma”
Di tengah skena alternatif Indonesia yang semakin dipenuhi eksplorasi sonik dan pendekatan emosional yang personal, PVLETTE kembali membawa perjalanan yang terasa muram, atmosferik, sekaligus intim lewat album terbaru mereka bertajuk Semakin Buram dan Percuma. Grup asal Tangerang Selatan ini seolah mempertegas identitas mereka sebagai salah satu unit nu-gaze lokal yang tidak hanya membangun musik sebagai pengalaman mendengar, tetapi juga ruang kontemplasi emosional.
Beranggotakan Christo, Diondy, Rayhanza, Savio, dan Vicky, PVLETTE selama ini dikenal lewat karakter musik yang memadukan rock alternatif modern, post-rock, dan nuansa dreamy khas shoegaze. Di album terbaru ini, mereka kembali mempertahankan fondasi tersebut: lapisan instrumental yang luas dan mengawang, gitar-gitar atmosferik yang terasa dingin, serta vokal emosional berbahasa Indonesia yang terdengar rapuh namun tetap intens.
Namun Semakin Buram dan Percuma bukan sekadar kumpulan lagu dengan ambience kelam. Album ini dibangun sebagai sebuah narasi linear tentang seseorang yang berada di titik paling rapuh dalam hidupnya. Perjalanan emosional itu bergerak dari keinginan untuk menyerah, pergulatan untuk tetap bertahan hidup, hingga akhirnya tiba pada fase penerimaan yang tenang namun menghantui.
PVLETTE seperti sengaja membiarkan setiap lagu terasa menjadi fragmen pikiran dari tokoh utama di dalam album ini. Ada rasa iri terhadap kehidupan orang lain, kecemasan tentang masa depan, kehilangan kepercayaan, sampai kesendirian yang perlahan berubah menjadi ruang paling sunyi sekaligus paling jujur. Tema-tema tersebut disampaikan tanpa kesan dramatis berlebihan, justru terasa seperti monolog internal yang samar dan terus bergema di kepala.
Dalam proses produksinya, PVLETTE menggandeng Wisnu Ikhsantama W., sosok yang cukup dikenal di lingkar musik alternatif Indonesia. Sentuhan produksinya berhasil menjaga karakter atmosferik PVLETTE tetap hidup tanpa membuat emosi di dalam lagu tenggelam oleh lapisan sound yang terlalu padat. Hasilnya adalah album yang terdengar luas dan dreamy, tetapi tetap menyisakan ruang kosong yang membuat setiap lirik terasa lebih dekat.
Album ini juga menghadirkan beberapa kolaborasi menarik, termasuk bersama Dixie Erlangga dari STANGERS serta proyek bersama Biru Baru. Kehadiran mereka memberi warna tambahan dalam lanskap emosional album tanpa menghilangkan identitas utama PVLETTE yang tetap gelap, sendu, dan reflektif.
Secara keseluruhan, Semakin Buram dan Percuma terasa seperti perjalanan panjang di malam hari: penuh pikiran berisik, memori yang datang tanpa diminta, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak selalu membutuhkan jawaban. Album ini tidak menawarkan optimisme kosong, tetapi mencoba menunjukkan bahwa penerimaan terkadang hadir bukan dalam bentuk kemenangan besar, melainkan kemampuan untuk tetap hidup setelah melewati semuanya.
Lewat rilisan ini, PVLETTE tidak hanya memperluas eksplorasi musikal mereka, tetapi juga memperlihatkan bagaimana musik alternatif lokal masih mampu menjadi medium yang personal, jujur, dan relevan untuk membicarakan kesehatan mental, kehilangan, dan rasa hampa tanpa harus terdengar menggurui.
Album Semakin Buram dan Percuma kini sudah tersedia di seluruh platform streaming digital, sementara video musik “Lebih Dari Ini” dapat disaksikan melalui kanal YouTube resmi PVLETTE.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar