 |
| Prass Menutup Empat Tahun Pencarian Diri Lewat EP "Free As A Bird" |
Ada karya yang lahir dari ambisi, ada pula yang tumbuh perlahan dari proses bertahan hidup. Bagi solois asal Jatinangor, Prass, EP Free As A Bird termasuk kategori yang kedua. Dirilis pada 24 Juli 2026 di seluruh layanan streaming digital, mini album berisi enam lagu ini bukan sekadar kumpulan komposisi baru, melainkan catatan perjalanan emosional yang ia tulis selama empat tahun terakhir.
Sejak memulai karier solonya pada 2023, Prass dikenal lewat pendekatan songwriting yang intim dan personal. Namun melalui Free As A Bird, ia melangkah lebih jauh. EP ini menjadi titik temu dari berbagai fase yang pernah ia lalui—kehilangan arah, rasa takut, kecemasan, proses penyembuhan, hingga akhirnya menemukan keberanian untuk berdamai dengan dirinya sendiri.
Judul Free As A Bird bukan dipilih sebagai metafora yang manis. Kebebasan yang dimaksud Prass adalah kebebasan setelah melewati masa-masa yang tidak mudah. Sebuah kondisi ketika seseorang akhirnya berhenti melawan dirinya sendiri dan mulai menerima bahwa setiap pengalaman, termasuk yang paling menyakitkan, ikut membentuk siapa dirinya hari ini.
Secara musikal, Prass memperluas spektrum bunyinya dibanding karya-karya sebelumnya. Keenam lagu di dalam EP ini bergerak di antara country, americana, ballad, hingga bluegrass, menghadirkan nuansa hangat yang terasa organik sekaligus intim. Dominasi instrumen akustik, harmoni vokal yang lembut, dan aransemen yang memberi ruang bagi lirik untuk berbicara membuat keseluruhan EP terdengar seperti sebuah perjalanan, bukan sekadar daftar lagu yang berdiri sendiri.
Yang membuat Free As A Bird terasa semakin personal adalah cara kelahirannya. Prass mengungkapkan bahwa materi-materi dalam EP ini berawal dari kebiasaan journaling yang disarankan oleh psikolognya sebagai bagian dari proses pemulihan. Catatan-catatan harian yang awalnya hanya ditujukan untuk dirinya sendiri perlahan berubah menjadi lirik, lalu berkembang menjadi lagu-lagu yang kini dapat didengarkan oleh publik.
Alih-alih menyembunyikan kerentanannya, Prass justru menjadikannya fondasi utama dalam penulisan lagu. Hasilnya adalah karya yang terasa jujur tanpa perlu menjadi melodramatis. Setiap lagu mewakili satu fase perjalanan emosional, sementara keseluruhannya membentuk narasi yang utuh tentang proses menerima kehidupan apa adanya.
Dari enam lagu tersebut, "Pada Akhirnya Kita kan Mati" dipilih sebagai fokus utama EP. Judulnya mungkin terdengar kelam, tetapi pesan yang dibawa justru berkebalikan. Lagu ini bukan tentang kematian sebagai akhir, melainkan tentang bagaimana kesadaran akan keterbatasan hidup dapat membuat seseorang lebih menghargai setiap momen yang dimiliki.
Alih-alih mengajak pendengar larut dalam kesedihan, lagu ini mengingatkan bahwa waktu bersama orang-orang terdekat adalah sesuatu yang tidak bisa diulang. Kesadaran akan kefanaan hidup menjadi alasan untuk hidup lebih utuh, mencintai lebih tulus, dan hadir sepenuhnya di setiap pertemuan.
Proses produksi Free As A Bird pun berlangsung dengan cara yang sama organiknya seperti isi lagunya. EP ini diproduseri secara independen bersama Hilmi Adriansyah, yang telah menjadi rekan kreatif Prass sejak awal proses penggarapan pada 2023.
Semuanya bermula dari sesi-sesi sederhana di apartemen Hilmi. Dari ruang kecil tersebut, proses rekaman berkembang mengikuti kebutuhan setiap lagu. Tidak ada satu studio utama yang menjadi pusat produksi. Sebaliknya, Prass dan tim memilih mendatangi berbagai ruang kreatif, mulai dari Binaural Studio, Caltara Studio, Little Space Coffee House, Ardan Studio, hingga Tonefreak Studio bersama Ade. Beberapa bagian bahkan direkam di rumah para musisi, kamar kos Prass, maupun kamar Bhanu Marais, menghadirkan nuansa produksi yang terasa dekat dan tidak dibuat-buat.
 |
| Prass Menutup Empat Tahun Pencarian Diri Lewat EP "Free As A Bird" |
Semangat kolaboratif juga menjadi bagian penting dalam EP ini. Prass melibatkan banyak musisi dan kreator, di antaranya Khizfi Nurfiqoh, Hilman Firmansyah, Charly Septiana Perkasa, Alan Davison, Ratih Putri Apriliani, Rizki Parada, Fadli Julistia, Sigit Hadi Kurniawan, Zulqi Lael Ramadhana, Maulana Dwi Putra, hingga Rizki Delian. Kehadiran mereka tidak menghilangkan karakter personal karya ini, tetapi justru memperkaya warna musikal yang ingin dibangun.
Meski berangkat dari pengalaman yang sangat personal, Free As A Bird tidak berhenti sebagai ruang curhat seorang musisi. Prass berharap lagu-lagu di dalamnya dapat menjadi teman bagi siapa pun yang sedang menjalani proses serupa—merasa kehilangan arah, mempertanyakan hidup, atau sekadar membutuhkan keyakinan bahwa setiap fase sulit pada akhirnya bisa dilewati.
Setelah perilisan EP, Prass telah menyiapkan rangkaian promosi melalui berbagai media, program radio, podcast, hingga sesi live performance. Menariknya, perjalanan Free As A Bird juga akan membawanya ke luar Indonesia. Pada 29 Juli 2026, Prass dijadwalkan menggelar showcase perdananya di Kyoto, Jepang, dengan membawakan sebagian besar materi berbahasa Indonesia.
Keputusan tersebut lahir dari keyakinannya bahwa musik tidak dibatasi oleh bahasa. Bagi Prass, bahasa ibu tetap mampu menjangkau pendengar lintas budaya selama emosi yang disampaikan terasa jujur.
Melalui Free As A Bird, Prass tidak hanya merilis sebuah EP, tetapi juga menutup satu bab penting dalam hidupnya. Enam lagu di dalamnya menjadi dokumentasi tentang bagaimana seseorang bisa tumbuh dari luka, menerima dirinya sendiri, lalu akhirnya menemukan makna kebebasan yang sesungguhnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar