JAKARTA, negerimusik.com – Kolektif classic rock asal Jakarta, Black Horses, resmi menghentak kancah musik tanah air dengan merilis kantung album ketiga mereka yang bertajuk Jahanam. Dirilis di bawah naungan Firefly Records (anak perusahaan Musica Records), album ini merangkum sembilan track bertenaga yang menandai transformasi besar dalam perjalanan bermusik mereka.
Berbeda dari karya-karya terdahulu, Jahanam mencatatkan sejarah baru bagi band yang digawangi oleh Oscario (vokal), Kevin Indriawan (gitar), Lucky Azhary (bass), dan Julian Aditya (drum) ini. Untuk pertama kalinya, Black Horses merilis sebuah album penuh dengan seluruh lirik yang ditulis menggunakan bahasa Indonesia.
Di balik kemudi produksi, Black Horses mempercayakan posisi produser kepada figur ikonis John Paul Patton alias Coki (Kelompok Penerbang Roket, Ali, Portura). Kehadiran Coki berhasil membawa eksplorasi musikalitas Black Horses ke area baru yang lebih luas.
Hasilnya, album ini menyajikan corak classic rock yang terasa segar, organik, sekaligus "kotor" dan penuh distorsi. Karakteristik audio tersebut sengaja dirancang untuk mempertahankan energi eksplosif khas Black Horses, namun kini disajikan dalam format penulisan lagu yang jauh lebih dewasa.
Setelah sebelumnya mencuri perhatian lewat dua single lepas “Tirani Tua” dan “Distorsi Menggema”, kini giliran nomor berjudul “Jejak Waktu” yang didapuk sebagai lagu jagoan utama. Peluncuran album ini juga digenapi dengan perilisan video musik (music video) resmi dari track tersebut ke kanal YouTube mereka.
Lewat lagu utama dan nomor-nomor baru lainnya, Black Horses menyuntikkan lirik-lirik satir yang lugas, tegas, namun tetap memotret realitas sosial di sekitar mereka secara jujur tanpa terkesan menggurui.
"Album ini adalah bentuk respons bagi para Kusir (sebutan penggemar Black Horses) dan pendengar kami untuk bisa lebih relate dengan apa yang kami rasakan belakangan ini, terutama situasi yang terjadi di sekitar kita, apa pun konteksnya," ungkap sang vokalis, Oscario, mengenai makna di balik penamaan Jahanam.
Sang pembetot bass, Lucky, ikut menambahkan bahwa karya terbaru ini bukan sekadar kumpulan trek biasa. "Ini lebih dari sekadar album, ini adalah penanda zaman dari Black Horses untuk kita semua yang tinggal di Indonesia."
Secara keseluruhan, aransemen audio di dalam album Jahanam diproduksi untuk menonjolkan kekuatan performa langsung (live band). Band ingin para pendengar bisa merasakan kebebasan emosi yang sama kuatnya, baik saat mendengarkan rekaman audio maupun ketika menyaksikan aksi panggung Black Horses secara langsung.
Lewat album ini, Black Horses seolah mengirimkan pesan kolektif yang kuat kepada generasinya: “Kebebasan itu ada dan nyata. Selama masih punya nyawa, maka beranilah mengambil sikap. Karena sikap yang kita ambil punya pengaruh bagi anak-cucu kita di kemudian hari.”
Saat ini, album Jahanam sudah bisa dinikmati secara utuh melalui berbagai platform streaming musik digital.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar