Ada sebuah band yang tumbuh lewat satu formula, lalu mengulanginya sampai dikenal luas. Tapi ada juga band yang memilih jalan lebih sunyi: terus bergerak, terus berubah, terus membongkar tubuh musiknya sendiri sampai benar-benar menemukan bentuk yang terasa paling jujur. Strange Fruit tampaknya berada di kategori kedua itu.
Lewat EP terbaru mereka, Drips, unit asal Jakarta ini seperti tidak sedang merayakan “kebangkitan”, melainkan justru momen berlabuh—titik ketika seluruh pencarian sonik selama lebih dari satu dekade akhirnya menemukan gravitasi yang pas. Jika sejak Dolphin Leap (2015) mereka sudah menunjukkan kegelisahan untuk keluar dari struktur band gitar konvensional, maka di Drips semuanya terdengar jauh lebih matang, lebih sadar arah, dan yang paling penting: lebih utuh.
Di sinilah Strange Fruit tidak lagi sekadar terdengar seperti band yang “suka banyak referensi”, tetapi mulai benar-benar terdengar seperti Strange Fruit.
Mereka tetap menyimpan jejak-jejak masa lalu: impuls krautrock, kabut shoegaze, tubuh noise pop, sampai sensasi mengawang khas leftfield electronic dan acid house. Namun kali ini, seluruh elemen itu tidak bertabrakan secara liar. Sebaliknya, mereka seperti dirangkai sebagai satu lanskap yang saling menyusupi—aneh, hipnotik, tapi justru terasa natural.
Salah satu keputusan artistik paling penting di Drips adalah bagaimana Strange Fruit memberi ruang yang jauh lebih besar pada unsur elektronik. Ini bukan tempelan kosmetik, bukan juga upaya agar terdengar “modern”. Elektronik di EP ini justru terasa sebagai tulang punggung baru. Peran Irza Aryadiaz di departemen synthesizer menjadi sangat vital, terutama lewat kombinasi perangkat seperti TR-08 drum machine dan Moog Grandmother, yang memberi denyut mekanis sekaligus tekstur sureal pada keseluruhan materi.
Hasilnya langsung terasa sejak “Iridescent”, salah satu momen paling menonjol di rilisan ini. Lagu tersebut seperti mengajak pendengar masuk ke ruang antara pesta dan kontemplasi—beat minimalis yang terus bergerak, bass yang merunduk dalam, gitar yang mengawang seperti cahaya neon yang kabur setelah hujan. Ada sesuatu yang sangat urban, sangat malam, sangat “kota yang terlalu bising untuk benar-benar didengar”. Tapi justru di tengah kepadatan itu, Strange Fruit menemukan ruang heningnya sendiri.
Secara tematik, “Iridescent” juga bekerja menarik. Kalau kata “iridescent” sendiri merujuk pada perjumpaan warna-warni, maka Strange Fruit mengolahnya bukan sebagai kemeriahan semata, melainkan sebagai proses menemukan terang dari keterpurukan. Lagu ini terasa seperti pengalaman spiritual kecil: bukan tentang jawaban, tapi tentang kemampuan untuk tetap melihat kilau, bahkan saat hidup sedang kusam-kusamnya.
Kalau “Iridescent” adalah sisi mereka yang paling bercahaya, maka “Pouvoir Moteur” menunjukkan Strange Fruit dalam mode paling motorik. Judulnya sendiri, yang secara harfiah berarti “motoric power”, sudah memberi petunjuk ke mana lagu ini melaju. Ritmenya repetitif, konsisten, nyaris tanpa jeda—seperti mesin yang terus bekerja tanpa diberi kesempatan untuk ragu.
Ada semangat Can-era krautrock yang cukup kental di sini, tetapi Strange Fruit tidak memainkannya sebagai nostalgia. Mereka mengolahnya dengan pendekatan yang lebih elektronik dan lebih cair. Lagu ini seperti berdiri di persimpangan antara ritual klub, eksperimen art-rock, dan halusinasi pabrik modern. Dingin, presisi, tapi tetap punya denyut manusiawi di dalamnya.
Lalu hadir “Monopolar”, mungkin trek yang paling “mudah masuk” sekaligus paling menggoda dari keseluruhan EP. Ini lagu yang terdengar seperti mimpi setengah sadar—melankolis, catchy, dan punya kualitas pop yang samar-samar, tapi tidak pernah jatuh jadi sesuatu yang terlalu mudah ditebak. Vokal Baldi Calvianca di sini terdengar sangat efektif: tidak berlebihan, tidak terlalu demonstratif, justru bekerja seperti lapisan kabut yang memperhalus semua keganjilan di sekitarnya.
“Monopolar” juga terasa penting karena ia menunjukkan bahwa Strange Fruit sebenarnya tahu cara menulis lagu—bukan hanya membangun suasana. Ini poin penting. Sebab banyak band eksperimental terjebak pada atmosfer, tapi gagal menyisakan memori melodik. Strange Fruit, setidaknya di lagu ini, berhasil menjaga dua hal itu tetap berjalan beriringan.
Hal tersebut semakin dipertegas lewat video musik “Monopolar” garapan Mellow Splice, yang bukan sekadar ilustrasi visual, tetapi benar-benar memperpanjang dunia lagu ini ke medium lain. Alih-alih memberi makna yang kaku, video itu justru membiarkan lagunya tetap mengambang—penuh fragmen, disorientasi, dan ilusi optik yang membuat pengalaman mendengarnya terasa semakin sinematik.
Sementara itu, trek “Drips” sendiri terasa seperti inti emosional dari keseluruhan rilisan. Menarik karena lagu ini memakai nama yang sama dengan EP-nya, seolah Strange Fruit sedang berkata: kalau mau tahu siapa kami sekarang, mulailah dari sini. Dan memang, di trek inilah mereka terdengar paling telanjang sebagai sebuah band.
Ada shoegaze, ada noise, ada distorsi, ada kabut, ada sentimentalitas yang nyaris romantik—tetapi semuanya dibawa dengan disiplin struktur yang lebih rapi dibanding fase-fase awal mereka. Lagu ini terasa seperti tubuh Strange Fruit yang lama dan baru bertemu dalam satu ruang: sisi rock & roll mereka masih hidup, tapi kini sudah berdamai dengan mesin, ambience, dan logika elektronik yang semakin dominan.
Yang membuat Drips semakin menarik adalah bagaimana Strange Fruit tidak berhenti pada empat komposisi utama. Mereka juga membuka ruang tafsir lewat serangkaian remix dari nama-nama yang bukan kaleng-kaleng: Jonathan Kusuma, Tom Furse (The Horrors), dan Hardway Bros. Kehadiran mereka bukan gimmick internasional tempelan, melainkan perluasan konteks yang relevan terhadap DNA musik Strange Fruit itu sendiri.
Jonathan Kusuma, misalnya, membawa “Iridescent” ke wilayah hypnodub / leftfield disco yang lebih larut dan repetitif. Tom Furse menambahkan tekstur ambient-acid yang mempertegas sisi psikedelik mereka. Sementara Hardway Bros menggeser “Monopolar” ke lanskap yang lebih klub, lebih malam, lebih tubuh. Ketiganya membuktikan satu hal: lagu-lagu Strange Fruit memang cukup elastis untuk diterjemahkan ulang tanpa kehilangan jiwanya.
Dan mungkin itu salah satu indikator paling jelas bahwa Drips bukan rilisan biasa. Materi-materinya cukup kuat untuk dibongkar dan dibangun ulang, tanpa runtuh di tengah jalan.
Peran Bernardus Fritz sebagai produser juga layak digarisbawahi. Di tangan Fritz, Strange Fruit tidak terdengar “dibersihkan” secara berlebihan, tetapi justru diarahkan agar kekacauan mereka punya fokus. Ia tampaknya paham bahwa kekuatan Strange Fruit bukan pada kesempurnaan teknis, melainkan pada kemampuan mereka menciptakan ruang bunyi yang terasa asing namun mengundang. Drips terdengar seperti hasil dari band yang akhirnya tahu bagian mana yang perlu dibebaskan, dan bagian mana yang perlu dikendalikan.
Kalau harus jujur, Drips mungkin memang bukan rilisan yang langsung memeluk semua orang di pendengaran pertama. Ia bukan tipe EP yang dibangun untuk algoritma, bukan pula karya yang menuntut validasi instan. Tapi justru di situ letak kekuatannya. Strange Fruit terdengar seperti band yang tidak sedang mengejar relevansi cepat, melainkan sedang membangun dunianya sendiri dengan sabar.
Dan di tengah skena yang makin ramai oleh rilisan serba cepat, sikap seperti itu terasa semakin penting.
Dengan Drips, Strange Fruit tidak sedang mencoba terdengar besar. Mereka sedang terdengar lebih jernih. Lebih paham siapa diri mereka, lebih berani pada pilihan estetiknya, dan lebih siap untuk melangkah ke wilayah yang mungkin bahkan belum sepenuhnya mereka petakan sendiri.
Kalau ini benar-benar titik “berlabuh”, maka kabar baiknya: Strange Fruit akhirnya menemukan pelabuhan yang pantas untuk seluruh kekacauan indah yang mereka bangun selama ini.
Dan dari sini, mereka justru terasa seperti baru benar-benar mulai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar