Setelah sempat mencuri perhatian lewat debut single “Some of Us”, unit indie rock / shoegaze asal Jakarta Selatan, Katya, kembali melanjutkan langkah mereka dengan merilis single terbaru berjudul “Mariticide”. Jika pada rilisan sebelumnya Katya terdengar sebagai band yang menjanjikan secara atmosfer dan karakter, maka di lagu terbaru ini mereka tampak mulai menunjukkan sisi yang lebih matang—lebih tenang di permukaan, tetapi justru menyimpan tekanan emosional yang lebih dalam.
“Mariticide” hadir dengan pendekatan yang terasa berbeda dibanding materi sebelumnya. Katya memilih bergerak ke wilayah yang lebih melankolis, dengan aransemen yang cenderung lembut, samar, dan mengawang, namun tetap ditopang oleh lirik yang tajam. Hasilnya adalah sebuah lagu yang tidak meledak-ledak secara dramatis, tetapi justru bekerja perlahan: meresap, lalu meninggalkan bekas.
Yang membuat rilisan ini terasa menarik bukan hanya dari sisi bunyi, tetapi juga dari premis naratif yang mereka angkat. Judul “Mariticide” sendiri merujuk pada istilah Latin untuk tindakan pembunuhan seorang suami oleh istrinya. Ini bukan tema yang lazim diangkat dalam lanskap musik alternatif lokal, apalagi dibingkai lewat pendekatan shoegaze yang biasanya lebih identik dengan kabut emosi, kerinduan, atau alienasi personal.
Namun justru di situ letak daya tarik Katya. Mereka tidak berusaha membuat tragedi ini terdengar sensasional, melainkan mengolahnya menjadi sesuatu yang lebih puitik dan reflektif. Ada nuansa muram yang terasa sejak awal, seolah lagu ini tidak sedang bercerita secara gamblang, melainkan membiarkan pendengar masuk ke dalam ruang batin yang retak, dingin, dan tak sepenuhnya bisa dijelaskan.
Secara musikal, “Mariticide” berdiri di antara dua kutub yang menarik: kelembutan dan ancaman. Lapisan gitar yang dreamy dan ambience yang samar memberi kesan rapuh, tetapi di saat yang sama, pilihan tema dan bobot emosinya menghadirkan semacam kegelisahan yang tidak pernah benar-benar hilang. Ini tipe lagu yang terdengar indah di telinga, tetapi menyisakan sesuatu yang tidak nyaman di kepala.
Pendekatan seperti ini mengingatkan pada bagaimana beberapa band shoegaze dan dream-pop generasi baru menggunakan keindahan sonik sebagai medium untuk membicarakan sesuatu yang gelap. Bukan untuk mengaburkan luka, melainkan justru mempertegas betapa tragisnya sesuatu ketika dibungkus dalam keheningan. Katya tampaknya cukup paham bagaimana memainkan wilayah itu.
Di titik ini, “Mariticide” terasa bukan sekadar lagu lanjutan setelah debut, melainkan penanda bahwa Katya tidak ingin berhenti di level “band yang punya sound bagus” saja. Mereka tampak sedang mencoba membangun identitas yang lebih jelas—bahwa di balik kabut shoegaze yang mereka bawa, ada keinginan untuk mengolah tema-tema yang tidak biasa, lebih gelap, dan lebih berisiko secara artistik.
Tentu, langkah seperti ini juga menuntut konsistensi ke depan. Sebab band dengan sensibilitas seperti Katya akan selalu diuji bukan hanya pada seberapa “indah” mereka terdengar, tetapi pada seberapa jauh mereka bisa menjaga kedalaman gagasan tanpa kehilangan daya dengar. Dan untuk ukuran rilisan lanjutan, “Mariticide” menunjukkan bahwa mereka punya bekal yang cukup kuat untuk itu.
Menariknya lagi, hampir seluruh proses kreatif di balik lagu ini ditangani secara mandiri oleh Aqli Akbar Lubis, mulai dari penulisan lagu, produksi, mixing, mastering, hingga artwork. Hal ini membuat “Mariticide” terasa cukup personal dan terkonsentrasi secara visi. Tidak banyak distraksi; lagu ini terdengar seperti benar-benar lahir dari satu kepala yang tahu persis atmosfer seperti apa yang ingin dibangun.
Direkam, di-mix, dan di-master di Elsewhere Noise Lab Jakarta, “Mariticide” menempatkan Katya sebagai salah satu nama yang patut terus dipantau di jalur indie rock / shoegaze lokal. Bukan karena mereka berusaha keras terdengar besar, melainkan karena mereka terdengar punya arah.
Dan di tengah banyaknya rilisan yang berlomba cepat untuk sekadar lewat di timeline, itu justru jadi modal yang jauh lebih penting.
Single “Mariticide” dari Katya kini telah tersedia di berbagai digital streaming platform.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar