SEMARAMG — Di tengah banyaknya rilisan yang sibuk mengejar estetika, Four Abyss justru datang dengan sesuatu yang lebih mentah, lebih berisik, dan lebih penting: kemarahan yang punya arah. Band chaotic hardcore asal Semarang ini resmi merilis album debut mereka bertajuk “KINGDOWN” pada 3 April 2026, sebuah rilisan yang terdengar seperti luapan frustrasi terhadap sistem yang lama dibiarkan rusak, cacat, dan terus menelan korban.
Datang dari Atlas City, Four Abyss dihuni oleh Eric (vokal), Topan (gitar 1), Dwi “Kecap” (gitar 2 & sequencer), dan Raiz (drum). Terbentuk pada 2023 dari lingkar pertemanan sebuah tongkrongan di lantai dua kota Semarang, Four Abyss tumbuh bukan dari kalkulasi industri, melainkan dari energi kolektif yang lahir dari keresahan yang sama. Dan semua itu kini meledak utuh dalam “KINGDOWN”.
Secara musikal, Four Abyss tidak menutupi pengaruh mereka. Nama-nama seperti Landmvrks, Alpha Wolf, Knocked Loose, hingga Dealer menjadi fondasi penting dalam cara mereka membangun intensitas. Ada riff-riff yang menggertak, breakdown yang padat, ketegangan yang terus dipelihara, dan ledakan emosi yang tidak dibiarkan rapi. Namun alih-alih terdengar seperti tempelan referensi, Four Abyss justru berhasil meramu pengaruh-pengaruh itu menjadi identitas yang cukup jelas: chaotic hardcore yang sadar betul apa yang ingin mereka hantam.
Dan yang mereka hantam di “KINGDOWN” bukan hal kecil.
Album berdurasi 21 menit 43 detik ini berisi 7 trek yang saling terhubung oleh satu benang merah yang sangat jelas: rasa muak terhadap sistem yang berjalan dengan kebusukan yang terus diwariskan. Bukan kemarahan yang abstrak, melainkan kemarahan yang berakar pada realitas—korupsi, nepotisme, pembunuhan, politik kotor, hingga kekerasan aparat yang terlalu lama dinormalisasi.
Di sinilah “KINGDOWN” terasa bekerja bukan hanya sebagai album, tetapi juga sebagai dokumen emosi sosial.
Track pembuka “Ruled by Dogs” langsung memberi arah yang gamblang. Lagu ini membedah bagaimana sistem kerap dijaga oleh mereka yang tunduk bukan karena prinsip, tetapi karena kepentingan. Eric, sang penulis lirik, menggunakan metafora “anjing” untuk menggambarkan pihak-pihak yang setia selama masih diberi makan oleh majikannya. Sebuah gambaran yang kasar, sinis, tapi terasa relevan dengan lanskap sosial-politik yang kita lihat hari ini.
Namun seperti yang disiratkan lagu ini, loyalitas semacam itu tidak pernah benar-benar stabil. Ketika diperlakukan buruk, anjing-anjing itu pun bisa menggigit balik. Di titik ini, “Ruled by Dogs” tidak hanya menjadi kritik, tetapi juga semacam peringatan: sistem yang dibangun di atas ketundukan dan kerakusan pada akhirnya akan memakan dirinya sendiri.
Dan semangat itulah yang terasa terus merambat ke trek-trek berikutnya.
Alih-alih membuat album yang berdiri di atas slogan kosong, Four Abyss memilih menulis dari rasa kecewa yang sangat manusiawi—rasa jengah melihat ketidakadilan berlangsung terlalu lama tanpa perlawanan yang cukup nyata. Lirik-lirik di “KINGDOWN” tidak terdengar sok filosofis atau terlalu ingin “puitis”; ia justru bekerja karena terasa langsung, jujur, dan lahir dari amarah yang belum selesai.
Dalam konteks yang lebih luas, apa yang dilakukan Four Abyss mengingatkan pada tradisi hardcore sebagai medium perlawanan. Jika dulu hardcore tumbuh sebagai suara pinggiran yang menolak diam, maka “KINGDOWN” berdiri di jalur yang sama: musik sebagai ruang untuk menolak tunduk. Ada semangat yang bisa ditarik ke band-band seperti Knocked Loose atau Vein.fm dari sisi intensitas dan chaos, tetapi dari segi keberpihakan, Four Abyss juga terasa dekat dengan semangat hardcore lama yang menjadikan musik sebagai alat bicara ketika institusi terlalu sering memilih bungkam.
Menariknya, Four Abyss tidak hanya bermain di wilayah kebisingan. Kehadiran elemen sequencer dalam tubuh band memberi kemungkinan tekstur yang lebih modern pada materi mereka. Ini penting, karena chaotic hardcore hari ini memang tidak cukup hanya keras; ia juga perlu tahu bagaimana membangun suasana, tekanan, dan transisi yang membuat tiap ledakan terasa punya bobot. Dari materi yang dibawa dalam “KINGDOWN”, Four Abyss tampak paham bahwa brutalitas paling efektif bukan hanya soal volume, tetapi juga soal ketegangan yang dibangun dengan sadar.
“KINGDOWN” pada akhirnya terasa seperti debut yang tahu apa yang ingin dikatakan. Dan itu tidak selalu mudah.
Banyak band baru datang dengan energi besar, tetapi belum tentu datang dengan visi. Four Abyss justru menunjukkan keduanya sekaligus. Mereka punya amarah, tapi amarah itu tidak dibiarkan liar tanpa arah. Mereka punya referensi kuat, tapi tidak kehilangan konteks lokalnya. Mereka terdengar seperti band yang paham bahwa musik keras bukan sekadar soal “berisik”, melainkan soal apa yang membuat kebisingan itu perlu ada.
Di tengah realitas yang semakin absurd, album seperti ini terasa punya fungsi lebih dari sekadar hiburan. Ia bisa menjadi kanal katarsis, ruang identifikasi, sekaligus pengingat bahwa rasa marah tidak selalu salah—terutama ketika marah itu lahir dari ketidakadilan yang terus dipelihara.
Sebagai langkah awal, “KINGDOWN” adalah pembuka yang meyakinkan bagi perjalanan Four Abyss. Bukan hanya karena ini album penuh pertama mereka, tetapi karena mereka berhasil memperkenalkan diri dengan suara yang tegas, sikap yang jelas, dan energi yang tidak setengah-setengah.
Dalam waktu dekat, Four Abyss juga dikabarkan akan merilis format fisik berupa CD dan T-shirt untuk turut meramaikan Record Store Day (RSD). Langkah ini terasa pas, terutama untuk band yang memang lahir dari kultur kolektif dan semangat komunitas. Di bawah naungan Atlas Records, Four Abyss tampaknya sedang menyiapkan fondasi yang serius untuk tumbuh lebih jauh—bukan hanya sebagai band, tetapi juga sebagai bagian dari denyut baru musik keras dari Semarang.
Dan jika “KINGDOWN” adalah titik awalnya, maka Four Abyss tidak sedang datang untuk sekadar lewat. Mereka datang untuk menghantam.
Album “KINGDOWN” dari Four Abyss sudah resmi dirilis dan dapat didengarkan di berbagai platform musik digital.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar