WUSS dan Siddha (Skandal) Menyulam Luka Jadi Nyala di “Three Years of Wonder and Pain in a Boundless March” - negerimusik.com

Breaking

04/04/2026

WUSS dan Siddha (Skandal) Menyulam Luka Jadi Nyala di “Three Years of Wonder and Pain in a Boundless March”

 



MALANG — Ada lagu-lagu yang tidak datang untuk memberi jawaban. Ia hadir hanya untuk menemani, menatap luka dari jarak dekat, lalu berkata pelan: ya, hidup memang kadang seperti ini. Di titik itulah single terbaru WUSS, “Three Years of Wonder and Pain in a Boundless March”, menemukan denyutnya.

Band indie-rock asal Malang yang digawangi Sabiella Maris (vokal/gitar), Brilyan Pratama (vokal/gitar), Rara Harumi (bass), dan Rufa Hidayat (drum) ini kembali menandai langkah penting mereka di 2026 lewat rilisan yang terasa lebih dewasa, lebih terbuka, dan lebih jujur secara emosional. Tak sendiri, WUSS juga menggandeng Yogha Prasiddhamukti, atau yang lebih akrab dikenal sebagai Siddha dari Skandal, untuk memperkaya lapisan rasa dalam lagu ini.

Single ini bukan sekadar rilisan lanjutan. Ia adalah bagian penting dari perjalanan menuju album penuh perdana WUSS yang dijadwalkan meluncur pada kuartal kedua 2026. Dan jika album nanti akan menjadi tubuh utuhnya, maka “Three Years of Wonder and Pain in a Boundless March” terasa seperti salah satu jantung emosionalnya.

Seperti judulnya yang panjang, lagu ini juga menyimpan ruang batin yang luas. Ia merangkum tiga tahun perjalanan yang tak sepenuhnya mudah untuk diceritakan secara lurus: ada berkat, ada kehilangan, ada kebingungan, ada fase ketika hidup seperti terus berjalan sambil diam-diam mengikis sesuatu dari dalam diri.

WUSS tidak membingkai pengalaman itu secara dramatis berlebihan. Justru di situlah kekuatannya. Lagu ini berdiri di wilayah yang sangat manusiawi—tentang bagaimana seseorang bisa merasakan syukur dan kehancuran secara bersamaan, bagaimana hidup bisa terasa indah di satu sisi, tetapi juga menyisakan retak yang tak mudah dipulihkan.

Brilyan mengakui bahwa tiga tahun terakhir menjadi fase yang campur-aduk bagi dirinya dan mungkin juga bagi orang-orang di sekitarnya.

“Kalau dibilang momen paling berat dan paling indah, jujur selama tiga tahun itu semuanya campur jadi satu, mixed feeling banget. Ada banyak hal yang terjadi, tapi mungkin nggak bisa aku ceritakan secara gamblang. Yang jelas, di satu fase aku sempat merasa dihadapkan dengan masalah yang belum pernah aku alami sebelumnya, dan itu cukup berat,” ujarnya.


Namun, alih-alih tenggelam dalam luka, lagu ini justru tumbuh dari kesadaran bahwa ada banyak hal kecil yang ternyata menyelamatkan: teman, pekerjaan, kesehatan, dan keberadaan orang-orang yang tetap tinggal saat badai datang. Kesadaran itu membuat “March” terdengar bukan sebagai ratapan, melainkan sebagai bentuk penerimaan yang pelan-pelan matang.

Secara tematik, WUSS tampak sedang bergerak ke wilayah yang sering dihuni band-band seperti The Hotelier, Foxing, atau bahkan sisi reflektif dari Turnover era awal—musik yang tetap melodik dan enerjik di permukaan, tetapi menyimpan lirik yang murung, kontemplatif, dan emosional di dalamnya. Ada juga semangat serupa dengan band-band emo revival dan indie-rock modern yang tak takut terdengar rapuh, namun tetap menolak menjadi pasif.

Dan itu terasa relevan dengan cara WUSS menyusun lagu ini: bukan untuk terdengar “sedih” semata, melainkan untuk menangkap perasaan tumbuh yang tidak pernah benar-benar rapi.

Bagian “March” dalam judulnya pun menarik untuk dibaca lebih jauh. Ia bukan simbol kemenangan besar atau klimaks heroik, melainkan sebuah langkah kecil yang tetap dipaksakan untuk terus maju. Sebuah gerak yang tidak selalu percaya diri, tapi tetap berlangsung. Tidak spektakuler, namun penting.

Di sinilah kehadiran Siddha menjadi sangat pas.

Sebagai vokalis yang dikenal punya karakter penyampaian yang emosional namun tetap membumi, Siddha tidak datang sebagai tempelan featuring semata. Ia masuk ke lagu ini seperti seseorang yang memang pernah berdiri di ruang emosional yang sama. Warna vokalnya memberi dimensi baru pada narasi WUSS—sebuah suara yang terdengar pasrah, tapi bukan menyerah.




“Menurutku, menerima itu adalah menjadi apa adanya, pasrah. Dan itu energi yang coba kusampaikan ketika aku dikasih kesempatan nyanyiin lagu ini. Nggak dipikir kebanyakan, it is what it is kind of stuff,” tutur Siddha.


Ada kalimat menarik dari pernyataan Siddha yang terasa sangat mewakili lagu ini: aku selalu suka lagu upbeat yang powerful tapi dengan lirik melankolis. Formula itu memang terasa kuat di “Three Years of Wonder and Pain in a Boundless March”. Secara rasa, lagu ini bekerja di wilayah kontras—antara gerak dan diam, antara luka dan dorongan untuk terus berjalan, antara letupan dan keheningan.

WUSS tampaknya paham betul bahwa salah satu cara paling efektif untuk menyampaikan luka bukan selalu dengan membuat semuanya muram. Kadang justru ketika musiknya bergerak, liriknya jadi terasa lebih menghantam.

Dari sisi produksi, lagu ini ditulis sepenuhnya oleh Sabiella Maris, baik dari segi komposisi maupun lirik. Ada kesan bahwa WUSS kini semakin tahu bagaimana mereka ingin terdengar: tidak terlalu sibuk membuktikan diri, tetapi juga tidak bermain aman. Mereka sedang menyusun identitas yang lebih utuh, sedikit demi sedikit.

Proses produksi lagu ini sendiri disebut berlangsung cukup cepat, terutama di tahap mixing dan mastering. Tantangan justru muncul dalam koordinasi dengan Siddha yang merekam bagiannya di Niskala Studio, Yogyakarta.

“Proses mixing mastering sih lumayan cepat, cuma komunikasi sama Sida agak lama soalnya dia take di Niskala Studio Jogja, jadi perlu effort ekstra buat koordinasi ngirim lagunya pas rekaman,” jelas Sabiella.


Meski begitu, hasil akhirnya terasa solid. Tidak ada kesan bahwa lagu ini dipaksakan untuk menjadi “besar”. Ia justru terasa efektif karena tahu kapan harus menahan diri dan kapan harus meledak.

Yang paling menarik dari “Three Years of Wonder and Pain in a Boundless March” adalah keberaniannya untuk tidak menawarkan solusi. Lagu ini tidak datang dengan motivasi murahan atau optimism palsu. Ia hanya menawarkan satu hal yang lebih jujur: penerimaan.

Bahwa hidup memang tidak selalu harus dimengerti untuk tetap dijalani. Bahwa tidak semua kehilangan harus segera diberi makna. Bahwa kadang yang bisa kita lakukan hanyalah tetap bergerak—pelan, goyah, bahkan sambil membawa sisa luka yang belum selesai.

Dan mungkin justru di sanalah lagu ini menemukan kekuatannya.

Di tengah banyak rilisan yang terburu-buru ingin terdengar besar, WUSS memilih sesuatu yang lebih penting: terdengar benar.

Dengan single ini, WUSS tidak hanya membuka jalan menuju album perdana mereka, tetapi juga memperlihatkan bahwa mereka sedang tumbuh menjadi band yang tahu bagaimana mengubah pengalaman personal menjadi sesuatu yang bisa terasa kolektif. Sesuatu yang mungkin sangat spesifik bagi mereka, tapi diam-diam juga terasa akrab bagi banyak orang.

“Three Years of Wonder and Pain in a Boundless March” kini sudah tersedia di seluruh digital streaming platform dan juga dapat diakses melalui Bandcamp Haum Entertainment.

Dan sebelum album penuh mereka tiba, lagu ini sudah lebih dulu bekerja sebagai pengingat:
kadang bertahan bukan soal menang—
melainkan soal tetap melangkah, meski perlahan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALBUM

SINGLE

OPINI

Iklan Negerimusik