Jakarta, 8 April 2026 — Selama satu dekade terakhir, Dekadenz telah menempuh jalannya sendiri di luar arus utama nightlife komersial. Didirikan di Jakarta oleh Aditya Permana, Ridwan, dan Jonathan Kusuma, Dekadenz lahir sebagai platform untuk kultur klub alternatif—ruang yang tumbuh dari rasa ingin tahu, keberanian kuratorial, dan ketertarikan pada sisi-sisi musik elektronik yang tidak selalu ramah pada formula.
Dari awalnya sebagai rangkaian acara intim, Dekadenz berkembang menjadi salah satu entitas paling konsisten dalam skena underground Jakarta. Identitas mereka dibangun lewat nuansa psikedelia elektronik, tekstur industrial, serta pendekatan musikal yang kerap menembus pola umum dancefloor. Dalam perjalanannya, Dekadenz juga berkembang menjadi label rekaman yang secara aktif mendukung artis lokal maupun internasional yang bergerak di luar struktur klub konvensional.
Komitmen tersebut juga tercermin melalui seri kompilasi Themes For Divided Tribes, yang menjadi semacam peta eksplorasi suara mereka—eksperimental, leftfield, dan tetap berakar pada konteks regional. Dengan konsistensi itu, Dekadenz tak hanya membangun reputasi, tetapi juga menumbuhkan komunitas yang loyal, sekaligus menjembatani skena bawah tanah Jakarta dengan jaringan global.
Kini, dalam momentum perayaan satu dekade, Dekadenz kembali menegaskan posisinya lewat sebuah perhelatan khusus: menghadirkan Vladimir Ivkovic untuk tampil di Zodiac Jakarta pada Jumat, 10 April 2026.
Vladimir Ivkovic bukan nama sembarangan dalam lanskap musik elektronik alternatif global. Lahir di Beograd dan kini berbasis di Jerman, ia dikenal luas sebagai DJ dengan pendekatan naratif yang tidak konvensional—lebih seperti seorang pencerita yang merangkai rekaman demi rekaman menjadi perjalanan musikal yang tak terduga.
Akar artistiknya tumbuh dari ruang berpengaruh Salon des Amateurs di Düsseldorf, sebuah tempat yang dalam dua dekade terakhir kerap disebut sebagai salah satu inkubator penting bagi pendekatan DJing yang lebih bebas, eksperimental, dan tidak terikat pakem klub konvensional. Dari ruang itu pula, Ivkovic mengasah bahasa musikalnya: gelap, psikedelik, ganjil, namun selalu memikat.
Di luar booth DJ, Ivkovic juga dikenal sebagai pendiri Offen Music, label yang ia dirikan pada 2015 dan sejak itu menjadi rumah bagi berbagai rilisan yang sulit dikategorikan secara lazim—mulai dari eksperimental Serbia, ambient, hingga synth-pop yang muram dan atmosferik. Katalog Offen menjadi cerminan jelas dari sensibilitas artistiknya: terbuka, tak patuh genre, dan selalu tertarik pada suara-suara yang terasa sedikit “miring”.
Selama bertahun-tahun, pendekatan tersebut membawanya tampil di sejumlah venue dan festival paling berpengaruh di dunia. Nama Vladimir Ivkovic telah hadir di ruang-ruang seperti Berghain dan De School, serta festival-festival penting seperti Dekmantel, Primavera Sound, Unsound, Terraforma, hingga Houghton Festival. Ia juga aktif melakukan tur internasional ke berbagai kota di Asia, Amerika, Australia, dan Amerika Latin.
Namun di balik seluruh pencapaian itu, kekuatan utama Ivkovic tetap terletak pada satu hal: kemampuannya membangun suasana. Set yang ia hadirkan kerap menantang, tidak selalu mudah dicerna, namun hampir selalu meninggalkan kesan mendalam. Ia bukan sekadar DJ yang memutar trek, melainkan kurator suara yang tahu bagaimana menciptakan tensi, ruang, dan kejutan.
Kehadiran Vladimir Ivkovic di Jakarta terasa sangat masuk akal dalam konteks Dekadenz. Keduanya berbagi semangat yang sama: kecintaan pada musik yang tidak selalu ingin menyenangkan semua orang, tetapi justru memilih untuk jujur pada eksplorasi, atmosfer, dan pengalaman mendengar yang lebih dalam.
Malam spesial ini juga akan diperkuat oleh tiga nama inti di balik Dekadenz sendiri: Aditya Permana, Ridwan, dan Jonathan Kusuma.
Sebagai salah satu figur sentral dalam musik elektronik Indonesia, Jonathan Kusuma telah lama dikenal lewat karya-karyanya yang dirilis di label-label berpengaruh seperti I’m a Cliché, Cocktail d’Amore, Correspondant, hingga Ene Records. Sebagai DJ dan produser, ia telah tampil di berbagai klub dan festival internasional, termasuk Berghain, Panorama Bar, serta sejumlah kota di Eropa, Asia, dan Australia. Di Jakarta, ia juga dikenal sebagai Music Director Zodiac Jakarta, sekaligus salah satu motor utama di balik perkembangan Dekadenz.
Sementara itu, Aditya Permana membawa pendekatan yang lebih berakar pada eksplorasi drum analog dan synthesizer, dengan sensibilitas yang menempatkan Dekadenz sebagai ruang bagi musik klub yang lebih menantang, matang, dan tidak konvensional. Kontribusinya tak hanya terasa dalam kurasi acara, tetapi juga dalam pengembangan Dekadenz sebagai label yang membuka ruang bagi produser regional dan internasional.
Ridwan, di sisi lain, dikenal sebagai DJ, produser, dan kurator dengan insting seleksi yang sangat kuat. Set-nya bergerak melintasi spektrum elektronik yang tidak lazim, namun selalu terasa presisi dan relevan di dancefloor. Sebagai co-founder Dekadenz, Ridwan juga punya peran penting dalam membangun salah satu platform klub paling konsisten di Jakarta, sekaligus memperluas jejaknya lewat berbagai platform radio internasional seperti Kiosk Radio, Radio Vilnius, dan Mixmag Asia.
Dengan lineup seperti ini, malam Dekadenz x Vladimir Ivkovic bukan sekadar pesta, melainkan sebuah perayaan atas perjalanan sepuluh tahun yang dibangun lewat ketekunan, visi artistik, dan keberanian untuk tetap berbeda.
Bagi mereka yang mengikuti perkembangan skena klub alternatif Jakarta, ini adalah momen yang terasa pantas—sebuah pertemuan antara salah satu kolektif paling konsisten dari kota ini dengan salah satu storyteller paling menarik di lanskap elektronik global saat ini.
Dekadenz x Vladimir Ivkovic
Tanggal: Jumat, 10 April 2026
Venue: Zodiac Jakarta
Lineup: Vladimir Ivkovic, Aditya Permana, Ridwan, Jonathan Kusuma
Tentang Dekadenz
Dekadenz adalah kolektif musik, label rekaman, sekaligus klub malam berbasis di Jakarta yang berfokus pada eksplorasi musik elektronik. Selama satu dekade terakhir, Dekadenz telah menjadi salah satu pilar penting dalam skena underground kota ini, dikenal melalui performa berdurasi panjang, program acara yang tidak konvensional, serta komitmen terhadap independensi artistik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar