Sigit Jakson Rilis “Su Trada”, Lagu Tentang Penyesalan yang Datang Terlambat - negerimusik.com

Breaking

28/03/2026

Sigit Jakson Rilis “Su Trada”, Lagu Tentang Penyesalan yang Datang Terlambat

 


Ada satu jenis lagu patah hati yang tidak datang dengan tangisan, melainkan dengan ketegasan. Bukan lagi soal menunggu untuk dipilih, melainkan keberanian untuk berkata: sudah terlambat. Nuansa itulah yang dibawa rapper asal Bogor, Sigit Jakson, lewat single terbarunya “Su Trada”.

Dirilis di bawah naungan Posswood Records dengan dukungan distribusi digital dari Megabayz, “Su Trada” hadir sebagai rilisan yang terasa ringan di permukaan, namun menyimpan luka dan penolakan yang cukup dalam di baliknya. Lagu ini berbicara tentang satu fase yang mungkin akrab bagi banyak orang: ketika seseorang yang dulu pergi, tiba-tiba datang kembali dengan penyesalan—saat semuanya sudah benar-benar selesai.

Dalam “Su Trada”, Sigit Jakson tidak menempatkan dirinya sebagai sosok yang masih menunggu kepastian. Sebaliknya, ia berdiri di titik yang lebih matang: seseorang yang pernah memberi cinta tulus, pernah bertahan, pernah menunggu terlalu lama, lalu akhirnya memilih keluar dari hubungan yang tak lagi sehat.

Narasi itu terasa jelas sejak chorus lagu ini berjalan seperti pernyataan final: “jan lagi kau datang ganggu / sa sudah ada yang baru / ko tu hanya masa lalu.” Kalimat-kalimat ini sederhana, lugas, dan justru karena itu terasa mengena. Tidak berputar-putar, tidak mencoba puitis secara berlebihan, tetapi menyampaikan emosi dengan cara yang sangat dekat dengan bahasa keseharian pendengarnya.

Secara tematik, “Su Trada” bergerak di wilayah tentang harga diri, kebebasan emosional, dan penyesalan yang datang terlambat. Ini bukan lagu tentang membenci mantan semata, melainkan tentang seseorang yang akhirnya sadar bahwa cinta yang tulus pun punya batas. Ada titik di mana kesabaran habis, dan saat itu terjadi, tak semua hal bisa dipulihkan lagi.

Sigit Jakson sendiri selama ini dikenal lewat pendekatan hip-hop storytelling yang cukup kuat. Dalam beberapa rilisan sebelumnya, ia sering membangun lagu lewat sudut pandang naratif yang personal dan mudah divisualkan. Namun di “Su Trada”, ia membuka warna yang terasa lebih segar. Jika sebelumnya ia cenderung lekat dengan karakter hip-hop old school, kali ini ia membawa dirinya masuk ke ruang yang lebih cair: hip-hop reggae dengan sentuhan musik timur modern.

Dan di sinilah daya tarik utama lagu ini mulai bekerja.

Alih-alih membungkus tema patah hati dengan aransemen yang murung atau terlalu gelap, “Su Trada” justru hadir dengan atmosfer yang hangat, santai, dan mengalun ringan. Ada groove reggae yang membuat lagu ini tetap nyaman dinikmati, bahkan ketika liriknya sedang berbicara soal luka dan kekecewaan. Pendekatan seperti ini membuat “Su Trada” terasa tidak tenggelam dalam kesedihan, melainkan justru terdengar seperti bentuk pelepasan yang dewasa.

Pilihan itu juga terasa selaras dengan akar nuansa musik timur yang coba dihadirkan. Bukan sekadar tempelan estetika, melainkan benar-benar menjadi bagian dari karakter emosional lagu. Musiknya mengalir seperti percakapan yang sudah lama dipendam, lalu akhirnya diucapkan tanpa perlu berteriak.

Eksplorasi itu semakin kuat lewat keterlibatan dua musisi dari Indonesia Timur: Maby’Lihawa dari Siau, Sulawesi Utara, dan IichaL’Talantan dari Manokwari, Papua Barat. Kehadiran mereka bukan hanya memberi warna pada lagu, tetapi juga memperluas identitas “Su Trada” sebagai karya kolaboratif yang menjembatani hip-hop urban dengan sensibilitas musik timur yang lebih organik dan emosional.

Peran IichaL’Talantan bahkan cukup sentral karena selain menjadi featuring artist, ia juga menangani produksi, mixing, dan mastering lagu ini. Hasilnya terasa jelas: “Su Trada” punya sound yang cukup bersih, rileks, dan tidak berlebihan, memberi ruang pada lirik untuk tetap menjadi pusat tanpa membuat musiknya kehilangan daya tarik.

Dari sisi penulisan, Sigit Jakson masih mengandalkan kekuatan utamanya: storytelling. Setiap verse dibangun seperti potongan percakapan dari seseorang yang akhirnya berhasil keluar dari hubungan yang menguras tenaga. Ada rasa jenuh, ada luka, ada penyesalan, tapi juga ada ketegasan yang tumbuh setelah semua itu dilewati.

Beberapa bagian liriknya terasa sangat kuat justru karena tidak mencoba terlalu “indah”. Kalimat seperti “sa sudah tong sudah tarada lagi” atau “jan lagi cari sa” bekerja sebagai bahasa penolakan yang sangat hidup. Ia tidak terdengar seperti kalimat yang ditulis untuk mengejar efek viral, melainkan memang lahir dari cara bicara yang jujur dan membumi.

Pendekatan seperti ini membuat “Su Trada” punya kedekatan emosional yang tinggi, terutama bagi pendengar yang akrab dengan warna bahasa dan kultur musik timur yang belakangan semakin kuat pengaruhnya di lanskap musik populer Indonesia. Namun menariknya, lagu ini tetap cukup terbuka untuk didengar khalayak yang lebih luas karena struktur lagunya mudah diikuti dan atmosfernya sangat ramah telinga.

Jika harus ditarik ke perbandingan yang lebih luas, “Su Trada” bergerak di jalur yang secara semangat mengingatkan pada bagaimana musisi seperti Kolohe Kai, J Boog, atau bahkan beberapa rilisan romantik-reggae dari Fiji membungkus luka dengan musik yang tidak muram, tetapi tetap menyimpan kedalaman emosi. Sementara dari konteks Indonesia, semangatnya bisa terasa berdekatan dengan gelombang hip-hop/musik timur modern yang dalam beberapa tahun terakhir berhasil menjadikan bahasa lokal, dialek, dan nuansa regional sebagai kekuatan utama—bukan sekadar identitas tempelan.

Di luar versi audionya, “Su Trada” juga diperkuat oleh kehadiran video musik yang mengambil latar di kawasan Pantai Sawarna, Lebak, Banten. Pilihan lanskap ini terasa tepat. Hamparan laut, garis horizon, dan suasana terbuka menjadi metafora visual yang cukup kuat untuk lagu tentang melepaskan masa lalu. Ada kesan lega, lapang, sekaligus sepi yang menyatu dengan narasi lagunya.

Video musik ini digarap oleh Tresna Ramadhan yang merangkap sebagai videographer, director, sekaligus editor. Jika versi audionya terdengar seperti surat penolakan yang tenang, maka visualnya memperkuat itu sebagai perjalanan emosional seseorang yang akhirnya benar-benar memilih melangkah pergi.

Pada akhirnya, “Su Trada” bukan lagu tentang dendam. Ini adalah lagu tentang selesai. Tentang fase ketika seseorang tidak lagi memohon untuk dipahami, tidak lagi berharap yang pergi akan berubah, dan tidak lagi membuka pintu untuk luka yang sama.

Sigit Jakson tampaknya paham bahwa kadang-kadang lagu patah hati paling efektif bukan yang paling pilu, melainkan yang paling jujur. Dan lewat “Su Trada”, ia berhasil membungkus kejujuran itu dalam bentuk yang santai, hangat, tetapi tetap meninggalkan bekas.

Buat pendengar yang sedang berada di fase menutup lembar lama, atau sekadar ingin mendengar lagu putus yang tidak cengeng, “Su Trada” layak masuk daftar putar.

Single “Su Trada” sudah tersedia di berbagai platform streaming digital sejak 18 Maret 2026, sementara video musik resminya dirilis pada 26 Maret 2026.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALBUM

SINGLE

OPINI

Iklan Negerimusik