Bayangkan seorang musisi yang telah melewati puluhan tahun di industri, lagu-lagunya hidup di radio, kaset, CD, hingga streaming. Namanya tidak sekadar dikenal, tapi menjadi bagian dari ingatan kolektif.
Lalu di satu titik, ia mengatakan: ia ingin pensiun, bukan karena tidak bisa berkarya, bukan karena kehilangan suara, tapi karena ingin… tenang, itulah yang terjadi pada Fariz RM.
Kabar mengenai pensiunnya Fariz RM sempat membuat banyak orang mengira ia benar-benar meninggalkan musik, namun jika ditarik lebih dalam, ceritanya tidak sesederhana itu. Dilansir dari Indopop.id, Fariz RM justru menegaskan bahwa yang ia tinggalkan adalah sisi bisnis dan tekanan industri hiburan, bukan musik itu sendiri. Ia memilih untuk menikmati hidup dengan lebih tenang di usia yang tidak lagi muda.
Ia mundur dari aktivitas bisnis musik, sorotan publik serta ritme industri yang terus menuntut, namun di saat yang sama, ia tetap membuka kemungkinan untuk terus bermain musik secara personal.
Beberapa waktu sebelumnya, publik justru sempat melihat sinyal berbeda, dilansir dari Liputan6.com, Fariz RM diketahui telah bebas sejak Februari 2026 dan bahkan sempat mengungkapkan rencana untuk kembali bermusik. Ia juga menyebut bahwa seorang musisi pada dasarnya tidak mengenal kata pensiun.
Pernyataan itu sempat memberi harapan akan sebuah comeback besar, namun yang terjadi kemudian justru lebih menarik, alih-alih kembali dengan gebrakan, ia memilih untuk melangkah pelan. Tidak terburu-buru, tidak lagi mengejar panggung, seolah ada perubahan cara pandang, dari “berkarier” menjadi “menjalani”.
Ada satu hal yang sering luput ketika kita membicarakan musisi senior, kita terbiasa melihat mereka sebagai legenda. sebagai performer, sebagai bagian dari industri, tapi jarang melihat mereka sebagai manusia yang mungkin… lelah.
Dalam konteks Fariz RM, keputusan ini terasa sangat personal, dilihat dari berbagai pemberitaan media hiburan, ia kini lebih memilih fokus pada kehidupan yang lebih sederhana, termasuk kegiatan spiritual dan berbagi dengan sesama, bukan karena tidak mampu bertahan, tapi karena tidak lagi ingin berada dalam sistem yang sama.
Ada ironi kecil di sini, ketika publik mendengar kata “pensiun”, yang dibayangkan adalah berhenti total, tidak tampil lagi. Tidak berkarya lagi. Namun dalam dunia musik, terutama bagi musisi seperti Fariz RM, itu hampir tidak mungkin, karena musik bukan sekadar pekerjaan, ia adalah bagian dari hidup.
Dan mungkin itu sebabnya, seperti yang sempat ia katakan dalam wawancara dengan Liputan6.com, musisi pada dasarnya tidak pernah benar-benar pensiun, bukan kontradiksi, justru itu bentuk kejujuran.
Fariz RM sudah melewati banyak fase, masa kejayaan, perubahan industri, hingga fase jatuh dan bangkit kembali, di titik ini, keputusannya terasa seperti sesuatu yang sangat personal.
Bukan strategi karier, bukan gimmick, tapi pilihan hidup, dan mungkin, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak lagi harus menjadi “Fariz RM” yang dikenal publik setiap saat, ia hanya perlu menjadi dirinya sendiri.
Kita sering melihat musik sebagai sesuatu yang terus bergerak, rilis baru, panggung baru, tren baru, tapi di balik itu, ada musisi yang juga terus berubah.
Keputusan Fariz RM bukan sekadar tentang pensiun, ini tentang memilih jarak, bukan menjauh dari musik, tapi menjauh dari kebisingan yang mengelilinginya, dan mungkin, di ruang yang lebih sunyi itu, musik justru kembali ke bentuk paling jujurnya.
Indopop.id – Fariz RM pensiun dari bisnis hiburan dan ingin hidup lebih tenang
Liputan6.com – Fariz RM bebas Februari 2026 dan rencana comeback
Liputan6.com – Pernyataan Fariz RM soal musisi tidak mengenal pensiun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar