Argya Rilis “Nanti Bila Engkau Pergi”, Lagu Tentang Cinta yang Tak Sepenuhnya Usai - negerimusik.com

Breaking

20/03/2026

Argya Rilis “Nanti Bila Engkau Pergi”, Lagu Tentang Cinta yang Tak Sepenuhnya Usai

 


Ada jenis cinta yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia tidak berakhir dengan kepastian, juga tidak sepenuhnya hilang—hanya berpindah bentuk menjadi kenangan yang diam-diam dijaga. Di wilayah itulah Argya menempatkan single terbarunya, “nanti bila engkau pergi.”

Lewat lagu ini, Argya kembali menyapa pendengar dengan pendekatan yang sederhana namun emosional. Bukan tentang kehilangan yang sudah terjadi, melainkan tentang bayang-bayang kehilangan yang belum tentu datang—namun sudah cukup untuk menimbulkan rasa takut.


“Nanti bila engkau pergi” lahir dari satu pertanyaan yang mungkin terlalu jujur untuk diucapkan secara langsung: bagaimana jika suatu hari semua ini berakhir? Dari situ, lagu ini berkembang menjadi refleksi tentang rasa syukur atas kehadiran seseorang, sekaligus kegelisahan yang tumbuh saat membayangkan kepergiannya.

Salah satu kalimat yang menjadi inti dari lagu ini berbunyi, “Bila nanti kita tidak berakhir baik, setidaknya bolehkah aku menyimpanmu di sisa hidupku.” Sebuah pernyataan yang tidak menuntut, tetapi juga tidak sepenuhnya rela. Ada ruang abu-abu yang sengaja dibiarkan terbuka—tempat di mana cinta tidak harus dimiliki, tapi juga tidak bisa sepenuhnya dilepaskan.

Pendekatan emosional seperti ini mengingatkan pada karya-karya NIKI, yang kerap membingkai cinta dalam nuansa reflektif dan personal, tanpa perlu dramatisasi berlebihan. Di sisi lain, secara lirik yang repetitif namun menghantui, Argya juga bergerak di jalur yang serupa dengan Phoebe Bridgers—di mana kesedihan tidak selalu meledak, tetapi justru tinggal lama di kepala.

Namun, Argya tetap membawa identitasnya sendiri. Jika banyak lagu tentang kehilangan berakhir pada fase “merelakan sepenuhnya”, “nanti bila engkau pergi” justru memilih untuk jujur: bahwa tidak semua perasaan bisa dilepas dengan utuh. Ada bagian yang tetap tinggal, meski hubungan itu sendiri mungkin sudah selesai.

Secara musikal, lagu ini dibangun dengan pendekatan yang intim. Aransemen yang sederhana memberi ruang besar pada emosi untuk berbicara. Tidak ada produksi yang berlebihan—justru di situlah kekuatannya. Setiap elemen terasa hadir untuk mendukung cerita, bukan menutupinya.

Pilihan ini membuat dinamika lagu terasa dekat. Pendengar seperti diajak masuk ke ruang yang sunyi—tempat di mana pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah diucapkan akhirnya menemukan bentuknya, meski hanya lewat lagu.

Dalam konteks yang lebih luas, “nanti bila engkau pergi” berbicara tentang sesuatu yang sangat manusiawi: ketakutan akan kehilangan sebelum kehilangan itu benar-benar terjadi. Sebuah fase yang sering kali tidak dibicarakan, tetapi diam-diam dialami banyak orang.

Dan mungkin, di situlah relevansi lagu ini.

Karena pada akhirnya, tidak semua cinta harus berakhir dengan memiliki. Kadang, ia hanya perlu disimpan—diam-diam, perlahan, dan cukup untuk dikenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ALBUM

SINGLE

OPINI

Iklan Negerimusik