 |
| TIGATITIK Buka Perjalanan dengan “Kau Yang Berbeda”, Membawa Pop ke Ruang yang Lebih Sinematik |
Di antara pop yang akrab dan atmosfer yang lebih luas, TIGATITIK mencoba menemukan ruangnya sendiri. Band asal Surabaya ini resmi memperkenalkan diri melalui debut single “Kau Yang Berbeda”, sebuah lagu cinta yang menggabungkan melodi pop dengan pendekatan aransemen yang lebih sinematik, atmosferik, dan beraroma shoegaze.
Diperkuat oleh Pandu (vokal), Rov (gitar), dan Benne (bass), TIGATITIK terbentuk pada 2024 dan menjadikan “Kau Yang Berbeda” sebagai pernyataan pertama mengenai arah musikal mereka. Lagu ini berangkat dari kisah nyata yang ditulis Pandu, tetapi kemudian dikembangkan menjadi sebuah pengalaman yang lebih luas: tentang bagaimana seseorang bisa begitu berarti hingga membuat ruang di sekitarnya terasa berbeda.
Secara permukaan, “Kau Yang Berbeda” masih berdiri di atas fondasi pop yang mudah dikenali. Melodi vokalnya dibuat catchy, sementara lirik intim menjadi pusat perhatian. Namun, TIGATITIK tidak berhenti pada formula pop yang aman. Mereka memperlambat tempo, memperlebar penggunaan reverb, dan memberikan ruang lebih luas bagi gitar serta tekstur suara untuk berkembang.
“Kami ingin mempertahankan lirik intim dan catchy sebagai kekuatan utama lagu ini, tapi secara teknis kami mencoba memperlambat tempo, memperluas reverb, dan menghasilkan aransemen yang berbeda dari band pop lainnya,” ujar TIGATITIK.
Pendekatan tersebut membuat “Kau Yang Berbeda” terasa seperti pop yang sengaja dibiarkan berjarak. Vokal tetap menjadi titik paling dekat dengan pendengar, sementara instrumen di sekelilingnya menciptakan ruang yang lebih luas dan berkabut. Ada kecenderungan shoegaze dalam cara mereka memperlakukan tekstur, tetapi lagu ini tidak sepenuhnya meninggalkan struktur pop yang menjadi pijakannya.
Justru pertemuan kedua karakter tersebut menjadi daya tarik debut TIGATITIK. Mereka tampaknya tidak sedang berusaha membuat lagu pop terdengar rumit. Sebaliknya, mereka mengambil sesuatu yang sederhana—cerita cinta—kemudian mengubah cara pendengar merasakannya melalui produksi dan atmosfer.
Pilihan tersebut juga sejalan dengan gagasan TIGATITIK untuk mengajak pendengar masuk ke ruang kontemplatif di antara ritme yang familiar. “Kau Yang Berbeda” bukan lagu yang sepenuhnya mengandalkan ledakan emosi. Ia bekerja dengan cara yang lebih perlahan, membiarkan perasaan tumbuh melalui repetisi, gema, dan lapisan aransemen.
Untuk sebuah single debut, pendekatan ini cukup penting. TIGATITIK sejak awal sudah memberikan gambaran bahwa mereka ingin menjadikan experience sebagai bagian dari musiknya, bukan sekadar mengejar lagu yang mudah didengar.
Menariknya, pengalaman tersebut tidak hanya dibangun melalui audio. Bersamaan dengan perilisan single di berbagai platform musik digital, TIGATITIK juga menghadirkan music video “Kau Yang Berbeda”. Visualnya mengambil momen transisi antara senja dan malam sebagai elemen utama.
Pemilihan waktu tersebut terasa selaras dengan karakter lagunya. Senja merupakan ruang di antara dua keadaan—siang yang belum sepenuhnya pergi dan malam yang belum sepenuhnya datang. Dalam konteks “Kau Yang Berbeda”, suasana tersebut menjadi cara visual untuk menerjemahkan perasaan yang berada di antara kenyataan dan ingatan, antara kedekatan dan kerinduan.
Dengan debut ini, TIGATITIK memperkenalkan diri sebagai band yang ingin membawa pop ke wilayah yang lebih atmosferik. Mereka masih memiliki hook yang mudah diingat dan cerita cinta yang relatable, tetapi membungkusnya dengan produksi yang memberi perhatian lebih pada tekstur dan suasana.
TIGATITIK terbentuk di Surabaya pada 2024. Kini, trio ini diperkuat Pandu pada vokal, Rov pada gitar, dan Benne pada bass. “Kau Yang Berbeda” menjadi langkah pertama mereka dalam memperkenalkan musikalitas TIGATITIK kepada pendengar yang lebih luas sekaligus membuka perjalanan mereka di industri musik Indonesia.
Jika debut biasanya menjadi kesempatan bagi sebuah band untuk menunjukkan "siapa mereka", TIGATITIK memilih pendekatan yang sedikit berbeda. Mereka tidak memberikan semua jawabannya sekaligus. Lewat “Kau Yang Berbeda”, mereka hanya membuka sebuah pintu—ke dunia pop yang lebih luas, lebih berkabut, dan lebih sinematik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar