Georgia Querer Menyimpan Memori yang Tak Mau Hilang Lewat Album Elusive Things
Bogor — Ada sesuatu yang menarik dari musik yang lahir bukan karena dikejar waktu, melainkan justru karena waktu sempat menghentikannya. Bagi Georgia Querer, trio alt-rock asal Bogor, proses menuju album penuh pertama mereka berjalan dengan cara seperti itu. Lagu-lagu yang sempat tertahan, pekerjaan yang berubah, fase kehidupan yang bergeser, hingga bank lagu yang nyaris berdebu akhirnya bertemu dalam sebuah album bertajuk Elusive Things.
Album tersebut resmi dirilis pada 7 Agustus 2026 melalui Tromagnon Records, label yang juga berasal dari Bogor. Rilisan ini menjadi album penuh perdana Georgia Querer setelah sebelumnya memperkenalkan diri melalui single “Preserved Frame” pada 2022 dan kembali muncul lewat “Something in Between” pada 26 Juni 2026.
Georgia Querer kini beranggotakan Praditya Gumilang alias Gilang pada vokal, Galuh Ilham dan Muhammad Firly Rizkyama alias Adun pada gitar. Lewat tujuh lagu di Elusive Things, mereka tidak sedang berusaha menyusun album dengan narasi yang terlalu besar. Sebaliknya, album ini tumbuh dari sesuatu yang jauh lebih sederhana dan personal: ingatan.
“Waktu itu, gue merasa hidup itu kan terus berjalan, ya. Nah, selama itu, waktu terus bergulir. Momen baru bermunculan. Ingatan ada yang memudar, ada juga yang bertahan,” jelas Adun. Menurutnya, bagian paling aneh dari memori justru terletak pada ketidakmampuan manusia mengendalikannya. Ada hal yang ingin dilupakan tetapi terus menetap, sementara sesuatu yang dianggap penting justru bisa perlahan menghilang.
Di situlah Elusive Things menemukan bentuknya.
Tema memori dalam album ini terasa semakin masuk akal jika melihat perjalanan produksinya. Elusive Things bukan album yang dikerjakan dalam satu tarikan napas. Prosesnya sempat berhenti ketika ketiga personel memasuki fase kehidupan masing-masing.
Gilang sedang memasuki kehidupan baru sebagai kepala keluarga dan kini telah menjadi seorang ayah. Adun berpindah pekerjaan yang justru membuat kesibukannya bertambah, sementara Galuh juga menjalani proses adaptasi dengan pekerjaan barunya.
“Proses produksi sempat terhenti aja karena nggak keurus. Masing-masing dari kami pada saat itu sama-sama sedang menghadapi masa peralihan fase hidup,” ujar Galuh.
Ironisnya, situasi tersebut justru sejalan dengan gagasan utama album. Musik Georgia Querer menjadi semacam arsip dari sesuatu yang tidak bisa dihentikan: waktu.
Bank lagu yang dahulu dibuat ketika kehidupan mereka masih berada di titik berbeda kini dibuka kembali. Lagu-lagu lama mendapatkan konteks baru karena ditafsirkan oleh orang-orang yang sudah berubah.
“Memori gue ketemu Galuh, bank lagu yang udah berdebu, dan makna lirik yang Gilang bikin, jadi memori yang akan selalu ada di otak gue,” kata Adun.
Maka Elusive Things bukan hanya kumpulan lagu yang akhirnya selesai direkam. Album ini juga menjadi dokumentasi hubungan, persahabatan, dan proses kreatif tiga orang yang terus bergerak melewati kehidupan masing-masing.
Secara musikal, Georgia Querer berdiri di wilayah alt-rock yang cenderung mengutamakan atmosfer dan tekstur ketimbang sekadar mengejar struktur lagu yang mudah ditebak. Karakter tersebut menjadi bagian penting dari identitas Elusive Things, sebuah album yang terasa seperti hasil dari pengendapan panjang.
Tujuh lagu di dalamnya adalah “Haul Over The Coals”, “In Unison”, “Wine and Parade”, “Something in Between”, “Green Jacket”, “This Train Won't Take Me Any Further”, dan “Preserved Frame”.
Menariknya, “Preserved Frame”—single perdana mereka yang dirilis pada 2022—kini ditempatkan kembali sebagai bagian dari keseluruhan album. Kehadirannya membuat Elusive Things terasa seperti titik temu antara masa lalu dan masa kini Georgia Querer. Sementara “Something in Between” menjadi jembatan terbaru menuju album yang akhirnya dirilis penuh.
Seluruh lirik ditulis oleh Gilang. Di sisi produksi, Georgia Querer bekerja bersama Deni Noviadi yang menangani recording, mixing, sekaligus mastering. Proses rekaman berlangsung di Bens n’ Co Records, studio yang kembali menjadi pilihan mereka untuk menyelesaikan album ini.
Kehadiran Deni juga memberikan lapisan menarik dalam proses produksi. Ia memiliki pengalaman dengan lanskap musik yang serupa dengan apa yang sedang dimainkan Georgia Querer. Bagi Galuh, perspektif tersebut justru menjadi salah satu bagian menyenangkan dari proses pengerjaan album.
“Senang melihat Wak Denol menuangkan perspektif dia terhadap album ini. Seru banget,” ujar Galuh.
Adun pun menganggap keterlibatan Deni memberikan banyak insight, terutama dari sisi produksi.
Selain Deni, album ini juga melibatkan Muhammad Fadhil Naufal Salam alias Opay, drummer dari band indie-rock Bogor Swellow. Ia berperan sebagai session drummer pada enam dari tujuh lagu. Sementara Tamara Putri mengisi backing vocal untuk “Wine and Parade”.
Dengan demikian, Elusive Things tetap memiliki semangat kolaboratif meski fondasinya sangat personal.
Bagi Tromagnon Records, album ini juga memiliki arti lebih jauh daripada sekadar tambahan katalog. Ken Norman dari label tersebut melihat Elusive Things sebagai sebuah upaya untuk mengarsipkan keberadaan Georgia Querer sekaligus lanskap musik yang mereka bawa.
“Ini adalah salah satu milestone buat kami untuk bisa mengarsipkan Georgia Querer,” ungkap Ken.
Ia melihat musik yang dimainkan Georgia Querer memiliki keterhubungan dengan tradisi alt-rock independen Bogor yang sempat diisi oleh sejumlah nama pada era sebelumnya. Karena itu, keberadaan Elusive Things menjadi penting bukan hanya sebagai debut sebuah band, tetapi juga sebagai bagian dari kesinambungan sebuah karakter musik di kota tersebut.
Pada titik ini, judul Elusive Things terasa semakin tepat. Sesuatu yang sulit dijelaskan, sulit ditangkap, tetapi terus hadir dalam ingatan.
“Ini adalah menu paling sempurna yang bisa kami buat. Kesannya payah dan nggak bisa dijelaskan, makanya kata ‘Elusive Things’ cukup mewakilkan,” kata Adun.
Ada kerendahan hati sekaligus kejujuran dalam pernyataan tersebut. Georgia Querer tidak mencoba menjelaskan seluruh isi album secara definitif. Mereka justru membiarkan pendengar menemukan bagian-bagian yang mungkin terasa familiar dari pengalaman mereka sendiri.
Album ini pada akhirnya berbicara tentang sesuatu yang universal: bagaimana manusia hidup berdampingan dengan ingatan. Tentang hal-hal yang perlahan hilang, tetapi juga tentang beberapa fragmen yang entah bagaimana terus menetap.
Sampul Elusive Things turut menerjemahkan suasana tersebut melalui fotografi Prasita Elfanda Putri dengan sentuhan desain grafis dari Adun. Sementara di dalam musiknya, Georgia Querer menyimpan tujuh keping cerita yang lahir dari perjalanan panjang mereka sendiri.
Setelah empat tahun berlalu sejak “Preserved Frame”, Elusive Things akhirnya tiba bukan sebagai album yang mengejar ketertinggalan, melainkan sebagai catatan bahwa beberapa hal memang membutuhkan waktu untuk menemukan bentuknya.
Dan mungkin, seperti memori yang menjadi inti album ini, beberapa musik memang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu ditemukan kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar