Mantra Angin Debut Lewat “Sampai Gelap Mengepung”, Folk Sunyi dari Kegelisahan Kota - negerimusik.com

Breaking

08/03/2026

Mantra Angin Debut Lewat “Sampai Gelap Mengepung”, Folk Sunyi dari Kegelisahan Kota

 


Jakarta, Maret 2026 — Di tengah hiruk-pikuk kota yang terus bergerak cepat, unit sadcore/folk asal Jakarta Mantra Angin memilih memulai langkahnya dengan cara yang jauh lebih pelan. Melalui single perdana bertajuk “Sampai Gelap Mengepung,” mereka memperkenalkan arah musikal yang kontemplatif sekaligus menjadi pijakan awal perjalanan band yang baru terbentuk pada Agustus 2025 tersebut.

Bagi Mantra Angin, lagu ini bukan sekadar rilisan pembuka, tetapi juga semacam ruang untuk merespons kegelisahan yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Vokalis sekaligus gitaris mereka, Huda R. Alam, menyebut proyek ini sebagai bentuk penyerahan diri terhadap kemungkinan-kemungkinan baru yang mungkin muncul di perjalanan.

“Semoga ini menjadi jalan penyerahan kami menuju temuan-temuan baru. Yang bisa berupa teman baru, atau jalan tikus baru yang memberi gairah lebih kuat untuk mencari jalan keluar, atau sekadar tempat istirahat di tengah banyak hal yang tidak menentu: musim, pekerjaan, negara, diri sendiri,” ujarnya.

Secara musikal, “Sampai Gelap Mengepung” dibangun di atas fondasi folk yang intim dengan aransemen minimalis. Petikan gitar akustik Huda menjadi tulang punggung melodi, sementara permainan bas Fernando Oktora hadir tertahan namun tetap menghanyutkan. Sentuhan piano dari M. Iqbal memberi ruang atmosferik yang lapang, sementara harmoni vokal ganda antara Huda dan Genevieve Ribka Wowor menciptakan nuansa yang lembut sekaligus melankolis.

Pendekatan ini secara sadar merujuk pada tradisi slowcore dan sadcore yang berkembang pada era 1990-an. Jejak pengaruh kelompok seperti Bedhead terasa dalam dinamika gitar yang rumit namun sunyi, sementara minimalisme spiritual ala Low ikut membentuk atmosfer lagu yang terasa intim dan menghantui. Di sisi lain, nuansa folk yang berbalut reverb dreamy juga mengingatkan pada pendekatan yang pernah dibangun oleh Mojave 3.

Dari tradisi tersebut, Mantra Angin seperti mewarisi satu keyakinan sederhana: bahwa ruang dan keheningan bisa berbicara sama kerasnya dengan distorsi. Tempo yang lambat justru memberi bobot lebih pada setiap kata yang dinyanyikan.

Secara konseptual, “Sampai Gelap Mengepung” terinspirasi dari suasana distopia—gambaran tentang dunia yang terasa menekan, repetitif, dan dipenuhi ketidakpastian. Lagu ini ditulis sebagai respons terhadap ketakutan sosial yang kerap dirasakan dalam kehidupan hari ini, ketika banyak hal terasa bergerak tanpa arah yang jelas.

“Tempat kami berusaha melupakan mimpi, melupakan ketakutan dari berbagai bentuk yang menggebu. Sampai mungkin, Mantra Angin turut menjadi mimpi itu sendiri, lalu menjadi ketakutan itu sendiri,” lanjut Huda.

Proses kreatif lagu ini berlangsung sekitar lima bulan dan dikerjakan di sela kesibukan masing-masing personel. Dari beberapa draf yang sempat mereka garap bersama, “Sampai Gelap Mengepung” akhirnya dipilih untuk diperdalam dan diproduksi secara serius. Dalam tahap produksi, Mantra Angin mempercayakan prosesnya kepada produser Adi Alam, yang dinilai memiliki kedekatan dengan pendekatan musik folk yang mereka usung. Ia diberi ruang untuk membentuk karakter bunyi hingga akhirnya menemukan warna yang menjadi identitas awal Mantra Angin.

Dengan perilisan single ini, Mantra Angin mengajak pendengar memasuki pengalaman mendengarkan yang lebih kontemplatif—sebuah ruang tenang di tengah dunia yang terasa semakin bising dan tidak menentu. Single “Sampai Gelap Mengepung” telah tersedia di berbagai platform digital sejak 4 Maret 2026 dan dirilis secara independen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Iklan Negerimusik