Tarling Cirebonan, Suara Pesisir yang Menjadi Identitas Pantura
Di satu sisi ada gitar, instrumen yang datang dari Eropa. Di sisi lain ada suling, alat musik yang telah lama hidup dalam tradisi Nusantara. Ketika keduanya bertemu di pesisir Cirebon dan Indramayu pada paruh pertama abad ke-20, lahirlah warna musik baru yang kemudian dikenal sebagai tarling—singkatan dari gitar dan suling. (Budaya Kita)
Berawal dari Sebuah Gitar Rusak
Musik yang Lahir dari Kehidupan Sehari-hari
Tarling tidak lahir di gedung pertunjukan, ia tumbuh di halaman rumah, di gardu ronda, di pesta rakyat, di hajatan, hingga pertunjukan keliling kampung. Berbeda dengan musik keraton yang penuh aturan, tarling justru tumbuh dari masyarakat biasa. Para petani, nelayan, buruh, hingga pedagang menjadikannya hiburan setelah bekerja seharian.
Karena berasal dari masyarakat, tema-tema lagunya pun sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, ada kisah tentang cinta yang kandas, ada cerita rumah tangga, kritik sosial hingga humor.
Pendengar tidak hanya menikmati melodinya, tetapi juga merasa sedang mendengar cerita mereka sendiri.
Mengapa Tarling Terdengar Sangat Berbeda?
Kendang kemudian mengikat seluruh permainan ritme, sementara gong atau kecrek memberi penanda pada struktur lagu. Dalam perkembangannya, sejumlah kelompok tarling juga mulai menambahkan keyboard, bass, hingga drum untuk menyesuaikan selera pendengar modern. (detikcom)
Teknik Permainan yang Tidak Banyak Dibahas
Kalau hanya mendengarkan sekilas, banyak orang mengira permainan gitar tarling sederhana, padahal justru sebaliknya.
Dari Musik ke Seni Pertunjukan
Tarling kemudian berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar daripada sekadar musik.
Muncul bentuk Drama Tarling, sebuah pertunjukan yang memadukan musik, teater, lawakan, hingga kritik sosial dalam satu panggung.
Pertunjukan semacam ini pernah menjadi hiburan utama masyarakat Cirebon dan Indramayu. Penonton datang bukan hanya untuk mendengarkan lagu, tetapi juga menyaksikan cerita yang dimainkan para aktor dengan dialog menggunakan bahasa Cirebon. Cerita rakyat seperti Baridin dan Ratminah menjadi salah satu lakon yang paling terkenal dalam tradisi Drama Tarling. (Budaya Indonesia)
Kalau dipikir-pikir, konsepnya mirip pertunjukan musikal. Bedanya, semuanya tumbuh dari budaya rakyat.
Ketika Dangdut Datang
Memasuki era 1970-an hingga 1990-an, tarling mulai mengalami perubahan. dangdut sedang berada di puncak popularitas, organ tunggal mulai masuk, keyboard menggantikan beberapa instrumen tradisional, tempo menjadi lebih cepat.
Lahir kemudian apa yang dikenal sebagai Tarling Dangdut atau Tarling Modern.
Sebagian orang menyambut perubahan ini karena membuat tarling lebih mudah diterima generasi baru, sebagian lainnya menganggap identitas aslinya mulai memudar.
Perdebatan itu sebenarnya masih berlangsung hingga sekarang.
Namun satu hal yang pasti, perubahan tersebut menunjukkan bahwa tarling bukan musik yang diam. Ia terus beradaptasi mengikuti zamannya. (Visit Indonesia)
Warisan Budaya yang Masih Hidup
Pada tahun 2018, Tarling resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Penetapan ini menjadi pengakuan bahwa tarling bukan sekadar hiburan lokal, tetapi bagian dari identitas budaya Indonesia yang perlu dilestarikan. (Budaya Kita)
Bagaimana membuat anak muda mengenal tarling bukan sebagai musik "orang tua", tetapi sebagai karya yang memiliki sejarah panjang, teknik permainan unik, dan identitas musikal yang tidak dimiliki daerah lain.
Tarling di Era Streaming
Referensi
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan – Warisan Budaya Takbenda: TarlingIndonesia Travel – Tarling, Musik Khas Cirebon dengan Nuansa Tradisional
detikJabar – Mengenal Musik Tarling yang Populer di Pantura
Tidak ada komentar:
Posting Komentar