Studio Tari Jiwangga Malang, Ada dan Melawan Sentimen-Sentimen 'Kuno' - negerimusik.com

Breaking

Kamis, 24 Oktober 2019

Studio Tari Jiwangga Malang, Ada dan Melawan Sentimen-Sentimen 'Kuno'

Tradisi merupakan sesuatu yang dilakukan sejak lama, menjadi kebiasaan pada suatu kelompok tertentu. salah satu contohnya adalah Tari Tradisional, sebut saja Reog, Topeng Malang, Beskalan dan lain sebagainya.

Namun saat ini pada kenyataannya, zaman sudah berubah, peminat tari tradisional yang ada didalam Negeri sendiri semakin sedikit, begitu juga dengan keberadaan sanggar tari tradisional sudah bisa dikatakan hanya ada dalam hitungan jari, beberapa mulai ditinggalkan generasi di masa sekarang, padahal seharusnya Tari adalah salah satu sisa tradisi yang harus dijaga, tari juga menjadi cerminan kekayaan budaya masyarakat di Indonesia.


Tari sendiri merupakan seni yang menggunakan gerakan tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu dengan tujuan untuk mengungkapkan perasaan, tujuan tertentu dan juga pikiran.

Hal yang paling mendasar dari sebuah tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (seringnya) secara lisan, tanpa adanya proses diatas suatu tradisi bisa dikatakan punah.

Menjadi hal yang unik dan menarik ketika masih ada orang yang peduli dengan Tradisi asli Indonesia ini, itu yang dilakukan oleh Luluk Atil Mabruroh atau yang akrab disapa Luluk ini, ia merupakan perempuan penggerak yang masih aktif dalam rangka meneruskan sisa-sia tradisi khususnya Tari yang ada di Kota Malang.

ditemui diStudio miliknya, Studio Tari Jiwangga yang beralamat di Jl. Candi Panggung 50B Kota malang itu kemudian bercerita, semasa kuliah sudah memikirkan untuk memiliki studio tari sendiri, perempuan yang aktif sejak masih duduk di bangku SMA ini memang pada akhirya membuat studio tari miliknya yang diberi Nama Studio Tari Jiwangga.

Luluk merupakan alumni program Seni Tari Universitas Negeri Malang (sekarang Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan) yang masih bertahan dengan bendera tradisi yang terus bergerak dan tergerak untuk melestarikan Tari Tradisional, bahkan ia menyebut langkah yang ia ambil merupakan 'perlawanan' terhadap sentimen-sentimen yang menganggap Tari Tradisional adalah suatu hal yang kuno.

"Studio Tari Jiwangga didirikan selain untuk melestarian seni kususnya seni tari, Jiwangga ingin mengubah pemikiran-pemikiran dari kaum muda terutama milenial yang selama ini menganggap kuno sebuah Tari Tradisi". Ucapnya

Selain itu ia juga menambahkan dengan didirikannya Studio Tari Jiwangga ia berharap belajar Tari Tradisional itu tidak seperti yang dipikirkan orang selama ini, kata tradisi itu selama ini identik dengan "kampungan", "gitu-gitu aja" memang sudah menjadi bumbu telinga para penggiat seni tradisi dimasa sekarang.

"Ingin menunjukkan saja, bahwa belajar tari dan kostum tari itu nggak 'jadul', nggak gitu-gitu aja atau monoton, seni tari itu bisa berkembang sesuai zaman, dan selama makna dan filosifinya tidak dihilangkan, seni tari tradisi tak perlu khawatir, sudah pasti mampu bersaing di era modern ini". tambahnya.

Mulai aktif dibuka sejak mei 2017 saat ini Studio Tari Jiwangga terbuka untuk umum, selain aktif di sanggar, Studio Tari Jiwangga juga aktif dan mengisi beberapa perform art di berbagai event baik di Kota Malang dan Luar Kota Malang, mulai dari penyambutan tamu-tamu penting dan lain sebagainya.

Luluk sadar betul bahwa ia bukan siapa-siapa, bahkan bersama Studio Tari Jiwangga ia merasa belum apa-apa, ia berharap Studio Tari Jiwangga tetap konsisten dengan tujuan awal, yaitu melestarikan budaya tradisional.

"kami bukan sanggar besar, kami hanya bagian kecil dari kegiatan seni umumnya, walau begitu, tujuan awal kami adalah untuk ada dan menginspirasi banyak orang terutama kaum muda untuk belajar Tari Tradisional dengan berkenalan dengan berbagai desain kostum tari, proses latihan koreo disetiap pengembangan gerak tari dan program lainnya".

dengan segala kekurangan yang ada ia berharap dapat mendapatkan apresiasi dan respon yang baik pula dari rekan, kolega dan elemen masyarakat lainnya, "ya kritik sudah pasti harus ada, ya pasti kami terima apapun, boleh memberi masukan asal membangun, boleh mengkritik asal santun, kami sadar betul Jiwangga masih miskin ilmu dan masih haus akan pengalaman, itu saja". tutupnya.

Pada akhirnya Tari Tradisional merupakan salah satu yang menjadi cerminan kekayakan budaya Negeri kita Indonesia, dapat kita temui dalam pameran-pameran Indonesia diluar negeri, dikancah International Indonesia sudah pasti memamerkan Tari sebagai sesuatu yang wajib ada dan diperkenalkan, bersama-sama kita tentunya berharap semoga Tari Tradisional tetap ada dan lebih hidup dari sebelumnya.

-----------------------------------------------------------
"seni tari itu bisa berkembang sesuai zaman, dan selama makna dan filosifinya tidak dihilangkan, seni tari tradisi tak perlu khawatir, sudah pasti mampu bersaing di era modern ini"
-----------------------------------------------------------

[youtube] Jiwangga


Penulis: Fajar Sandy
Editor: Fajar Sandy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar