Noose Ungkap Realita Kehidupan dalam Album Mereka "Macabre Lullabies" - negerimusik.com

Breaking

Minggu, 23 Februari 2020

Noose Ungkap Realita Kehidupan dalam Album Mereka "Macabre Lullabies"

Noose adalah trio heavy-rock asal Malang yang terbentuk di tahun 2016 yang pada awalnya memiliki visi untuk memainkan riff-riff purba a la Black Sabbath dengan sound kontemporer seperti Mastodon dan Baroness. Tahun 2017 menjadi awal perkenalan Noose lewat EP bertitel Flawless Darkness yang dirilis melalui label rekaman Hell Is Other.

Di tahun 2019 Noose mulai menggarap album penuh perdana yang berjudul  Macabre Lullabies. Dari sisi musik, Macabre Lullabies memiliki perbedaan yang kentara dari apa yang sudah Noose presentasikan lewat mini Flawless Darkness. Jika di mini album sebelumnya warna musik dari band seperti Black Sabbath, Deep Purple, hingga Queen of The Stone Age terasa begitu kental, maka lewat Macabre Lullabies Noose menambahkan itu semua dengan aura lebih gelap dan berat.

[profile] noose

Konsep utama di album Macabre Lullabies ini adalah mimpi buruk, Fadly sebagai penulis lagu membeberkan bahwa ada dua tipe mimpi buruk, yaitu realitas yang terjadi di sekitar kita yang terekam di benak dan menghasilkan mimpi-mimpi buruk, contohnya: peperangan, kehancuran, kemunduran umat manusia, dan juga hal-hal personal yang bernuasa negatif. Kedua, yaitu hal-hal yang berupa fiksi seperti horror, baik dalam buku ataupun film. Kedua hal tersebut di lebur menjadi Macabre Lullabies, lagu – lagu penghantar mimpi buruk mu. Setiap lagu mewakili hal atau sesuatu yang bisa menjadi mimpi buruk di saat anda terlelap.

Bleak Fang adalah lagu yang diceritakan melalui sudut pandang seorang Werewolf. Dracula adalah tokoh paling iconic di dunia horror, lagu The King of Doom adalah tribute kami untuk sang mahluk penghisap darah, tetapi jika anda cermati dan pahami lirik lagu tersebut anda akan menemukan sedikit sentiment terhadap mahluk penuh nafsu tersebut.

Dalam EP Flawless Darkness sebelumnya, terdapat lagu berjudul Devil’s Envy yang menceritakan tentang kedatangan Lucifer di bumi, nah lagu Ave Diabolus ini merupakan sequel dari lagu tersebut yang kurang lebih bercerita tentang para pengikut Lucifer, baik yang datang dari neraka ataupun manusia-manusia yang membelot dan tunduk kepada Nya. Slanderous Jaws merupakan lagu yang cukup unik dalam hal penulisan lirik, karena awalnya merupakan puisi dari sang penulis. Lagu ini banyak menyinggung tentang keresahan sosial yaitu fitnah yang menyebabkan pertikaian dan ketidakharmonisan di dalam lingkup masyarakat. “Terjebak dalam mimpi buruk mu sendiri, hilang arah, dan tidak tau apa yang sebenarnya terjadi – hingga disaat kamu membuka mata, mimpi buruk itu nyata” itulah gambaran dari lagu Pale Devotion. Loathsong menggangkat topik tentang keraguan dari seseorang yang bimbang antara bunuh diri atau tetap hidup.

Cult Blooded bercerita tentang dualitas manusia, setiap orang memiliki monster di dalam dirinya, hanya soal waktu hingga monster tersebut mengambil alih diri kita dan melakukan perbuatan yang sangat amat keji yang sanggup membuat iblis terkesiap karenanya. Dalam mitologi Yunani, terdapat lima sungai yang harus manusia lalui di alam barzah, Lethe adalah salah satu sungai tersebut yang merupakan sungai pelupaan (oblivion). Semua yang kita lakukan dan cintai selama kita hidup akan hilang dalam ingatan dan hanya tersisa kehampaan itulah tema dari lagu Lethergy. A.L.I.C.E merupakan akronim dari Abhorrent Liturgy in Corrosive Entity.

Peperangan dan pertumpahan darah atas nama Tuhan adalah hal yang sangat umum di era ini, bunuh diri dan juga melukai agama lain bukan lagi hal yang aneh, kita manusia adalah penyebab segala kehancuran di bumi ini dan kita pantas mendapat segala malapetaka di hari akhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar