Event: 'Nyenuk' Bareng di Kafe Pustaka UM - negerimusik.com

Breaking

Jumat, 30 Agustus 2019

Event: 'Nyenuk' Bareng di Kafe Pustaka UM

Di beberapa daerah di Jawa, kata "Nyenuk" memiliki konotasi yang negatif. "Nyenuk" merupakan kependekan dari nyenengno manuk atau melakukan hubungan intim.

Berbeda dengan pengertian "Nyenuk" tersebut, di daerah lain khususnya di Trenggalek, "Nyenuk" memiliki makna yang sama sekali berbeda. Di sana, "Nyenuk" diartikan duduk.

Dengan mengambil tema "Nyenuk" yang berarti duduk ini, dua seniman asal Trenggalek mengadakan pameran seni rupa yakni karya lukis. Dua seniman tersebut yakni Danang Triwahono dan Andry Puguh Triworo.

Danang berkecimpung di bidang seni kriya seni lukis, bahkan mural. Karyanya sering ditampilkan di berbagai pameran, baik lokal maupun nasional, di antaranya Pesta Seni (2012, 2014, 2016, 2018), November Art (2013, 2015, 2017), Hajat Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) 2014, Tujuh Kota Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 2015, dan lain-lain.

Pria yang juga merupakan Bassist Rumah Serem Band ini juga aktif di berbagai kegiatan seni, mulai dari proyek film, teater, dan lain-lain.

Sementara Andry atau pria yang akrab disapa Tobeng ini bergulat di bidang lukis sekaligus tari. Karya-karya juga kerap tampil di berbagai pameran seni, beberapa di antaranya Pesta Seni (2014, 2018), November Art (2013), Timur Liar di Pare dan Surabaya (2019), dan masih banyak lagi.
Seperti halnya Danang, Vokalis Rumah Serem Band ini juga aktif di berbagai kegiatan seni, beberapa di antaranya teater dan penari di Komunitas Malang Fire Dance.

Keduanya aktif di berbagai kegiatan sosial, mulai dari mengajarkan budaya melalui mural di berbagai daerah dan mengikuti berbagai kepanitiaan pameran seni (Arteastism, Novart, Pesta Seni, One Day, dll).

Dua bersaudara ini berkolaborasi menghadirkan beberapa karya lukis yang dipamerkan di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang (UM), Sabtu (31/8/2019).

Melalui karyanya, Danang dan Tobeng mengajak "Nyenuk" (duduk/istirahat) dan merenungi kembali perjalanan masing-masing.

"Nyenuk dapat diartikan dengan duduk. Lebih jauh, dimaknai sebagai istirah atau ngaso, atur strategi atau isi tenaga, juga evaluasi diri," ujar Danang.

Pameran ini, dikatakan Danang, ‘hanyalah’ pemberhentian sejenak yang dirasa perlu dilakukan atas dasar kesadaran total bahwa untuk melanjutkan langkah kita perlu ngaso sejenak. Hal ini diperlukan untuk mengisi baterai, menyusun strategi, dan kembali bertanya pada diri sendiri untuk perjalanan selanjutnya.

Mengajak "Nyenuk" dan merenungi kembali perjalanan masing-masing adalah tujuan yang mulia. Namun di sisi lain, hal yang sering abai dalam diri kita adalah terlalu nyaman "Nyenuk".

Keluar dari hal-hal nyaman, takut menghadapi tantangan, dan bahkan mendogma diri bahwa hidup perlu dijalani dengan seadanya adalah tembok besar nan tinggi dalam mengarungi perjalanan.

"Pameran ini adalah tempat peristirahatan bagi yang memerlukan. Namun justru pijakan kami (Danang dan Tobeng) untuk melanjutkan perjalanan yang telah lama Nyenuk, dengan menyiapkan karya kolaborasi yang mengangkat isu-isu mendalam tentang alam dan orang-orang di sekitar kami," beber Tobeng.

Melalui tema "Nyenuk", Danang dan Tobeng ini juga turut mengejewantahkan keresahan akan mobilitas masyarakat saat ini yang dituntut serba cepat.

Akhir kata, pameran ini merupakan pameran bersama perdana yang didasari keinginan untuk beranjak dan kesadaran perlunya "Nyenuk". Setiap orang sendiri mempunyai pandangan masing-masing mengenai "Nyenuk".

Perlu diketahui, dalam pameran tersebut juga ada kesenian tradisional bantengan, fire dance dari Malang Fire Dance, dan penampilan dari Rumah Serem.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar