Review: Via Vallen, Sang Dewi 'Athena' Musik Dangdut di Tahun 2018! - negerimusik.com

Breaking

Kamis, 03 Januari 2019

Review: Via Vallen, Sang Dewi 'Athena' Musik Dangdut di Tahun 2018!

Pilihan Malang Jazz Festival 2018 memang sedikit berbeda, mengagetkan dalam artian yang  menyenangkan, Via Vallen menjadi salah satu bintang tamu salah satu event jazz terbesar yang hadir di Kota Malang pada oktober 2018 lalu

Ini menarik, namun apa sih yang sebenarnya membuat Malang Jazz Festival memilih kombinasi seperti Kahitna dan Mocca yang sudah aman-aman saja (biasa), namun ada bintang tamu di panggung utama yaitu penyanyi dangdut seperti Via Vallen, why??? 

Via vallen, nama yang cukup familiar di telinga masyarakat Indonesia, memiliki fanbase besar, video Youtube dengan jutaan viewer, Via Vallen mengawali karir berdendang koplo (sebuah istilah, sebutan untuk jenis musik dangdut) bersama grup musik terkenal seperti New Pallapa, Sera, Monata dari satu daerah ke daerah lain.

Sebelum menjadi terkenal seperti sekarang ini, publik lebih mengenal Via sebagai ratu koplo karena keahlianya membawakan lagu pop bahkan lagu luar negeri menjadi enak di bawakan dengan koplo, namanya mencuat bersamaan dengan suksesnya cover lagu “Sayang” dan diikuti oleh berbagai lagu cover lain di channel Youtubenya. 

Pergeseran image Via yang dikenal sebagai penyanyi koplo mulai berubah diawali ketika Via Vallen menjadi bintang tamu di acara Net 5.0, dalam gelaran ulang tahun stasiun televisi swasta bernama NET tersebut Via Vallen berkolaborasi dengan Boy William yang nge-rap membawakan lagu hitsnya 'Sayang' yang di aransemen ulang oleh Ronald Steven, tentu saja dengan gaya dangdut yang lebih segar dan kekinian, bukan lagi koplo. 

Penampilan tersebut langsung viral dan dibicarakan di mana-mana, apresiasi datang dari banyak pihak untuk sang penyanyi, composer, stasiun TV yang bersangkutan dan pihak terkait, mereka banyak memberikan apresiasi yang cenderung positif dan mendukung penampilan out of the box Via Vallen yang dinilai berani keluar dari zona nyamannya sebagai penyanyi koplo. Selain lagu, yang menjadi pembicaraan adalah gaya busana Via kala itu yang menggunakan setelan tuxedo, pilihan unik untuk seorang yang sudah bisa disebut 'diva' dangdut. 

Citranya yang segar dan modern terupgrade menjadi “stylist dan urban”. 

Penampilan tersebut membawa perubahan besar, masyarakat melihat image Via menjadi berbeda, yang berubah diantaranya adalah dengan spektrum genre musik yang ia coba bahkan ia kini mulai serius menggeluti genre jazz seperti yang ia lakukan dengan grup jazz Equinox (Malang).  

Sebelumnya pun ia kerap tampil dengan lagu pop di berbagai event, kini bicara tentang Via tidak melulu tentang Koplo, namun ia menjadi penyanyi penjajal banyak genre dan mudah diterima dengan baik oleh para penggemar komunitas dari sebuah genre.

Net 5.0 tidak mutlak menyulap Via, namun sebelumnya image Via sendiri memang terlihat berbeda dari penyanyi dangdut lainnya, ia lebih modern, segar bahkan terkadang terlihat meniru gaya K-Pop (sesuai dengan apa yang booming di 2018), Selain itu, pilihannya untuk melakukan cover lagu di Youtube (tidak banyak dilakukan oleh penyanyi dangdut) membentuk citra Via dari sudut pandang yang lain lagi, lagu yang dipilih Via juga kebanyakan bukan lagu dangdut, tapi lagu-lagu pop. 

Athena, dewi perang yang ahli strategi mitologi Yunani mungkin sebutan yang cocok disematkan kepada Via Vallen, ia dapat mengolah kemampuannya tidak hanya menjadi penampil yang membosankan, dengan lagu yang selalu sama dengan genre yang selalu sama pula, ia membidik pasar berbeda dari pasar dangdut biasanya yakni masyarakat menengah ke bawah namun pasar muda dan masyarakat menengah ke atas, bidikan ini dilakukan dengan modal strategi brandingnya yang lebih modern dan yang paling penting: mencoba hal baru, something out of the box

Dangdut selama ini adalah musik rakyat, dinikmati tanpa biaya mahal sehingga mudah menyebar dan digemari kalangan masyarakat awam, dangdut dipandang sebagai genre strata kedua, artisnya pun kerap dipandang sebagai artis yang sering membuat sensasi, dan tak dapat dipungkiri dalam berbagai kesempatan, penontonnya kerap membuat keributan, image ini mulai bergeser, diawali dengan langkah Via Vallen yang berani berkolaborasi dengan genre lain seperti pop dan jazz. Jazz, genre yang kerap dianggap “mahal”pun sudah berani Via coba, sehingga semakin terbuka kesempatan untuk artis lain berkolaborasi dengan artis berbagai genre, harapan bahwa pandangan kepada dangdut ini berubah tentu saja jangan sampai hilang, walaupun ada banyak kecemasan bahwa gerakan ini hanya digawangi oleh beberapa oknum saja, kekhawatiran ini muncul mengingat track record penyanyi dangdut berkolaborasi dengan artis lain sudah pernah terjadi. 

Penentuan derajat dangdut bukan berdasarkan kolaborasi atau sensasi yang ditimbulkan artisnya, namun seberapa frekuensi inovasi yang dibuat, seperti halnya bidang lain, yang akan bertahan adalah yang bisa berinovasi, mengikuti perkembangan zaman, namun tentu saja nilai originalitas tidak boleh ditinggalkan, jaya dangdut Indonesia, musik segala umat!.




Foto: Instagram (@viavallen)
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sebuah Review: Bukan dari Penggemar Via Vallen, bukan juga dari pecinta Dangdut, hanya mencatat apa yang perlu dicatat, dan salah satu yang perlu di ingat dari musik layar kaca di 2018 adalah Via Vallen dengan Dangdutnya di NET 5.0. Revolusi!

Penulis: Esti (@ningtyaesty)

2 komentar: